Kylie Kelce Buka Suara: Ketakutan Hamil Usai Keguguran dan Perjuangan Melawan Trauma
Baca dalam 60 detik
- Kylie Kelce mengaku mengalami ketakutan mendalam saat hamil lagi setelah keguguran, bahkan terus mencari informasi peluang kehamilannya bertahan.
- Pengalaman kehilangan janin di usia 9-10 minggu meninggalkan trauma berkepanjangan yang memengaruhi kehamilan-kehamilan berikutnya.
- Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan mental bagi ibu yang pernah mengalami keguguran, relevan dengan meningkatnya kesadaran kesehatan mental di Indonesia.

Podcaster dan istri mantan bintang NFL Jason Kelce, Kylie Kelce, mengaku sempat diliputi ketakutan luar biasa saat kembali hamil setelah mengalami keguguran. Dalam episode terbaru podcast-nya, "Not Gonna Lie", perempuan 34 tahun itu menceritakan bagaimana trauma kehilangan anak pertama membuatnya cemas berlebihan sepanjang kehamilan-kehamilan berikutnya.
Kylie, yang kini telah dikaruniai empat anak perempuanโWyatt (6), Elliotte (5), Bennett (3), dan Finnley (16 bulan)โmengungkapkan bahwa pengalaman pahit itu terjadi sebelum kelahiran anak pertamanya. Ia bahkan mengaku setiap minggu mencari tahu di internet tentang peluang kehamilannya bertahan. "Saya benar-benar ketakutan. Bahkan ketika saya hamil, setiap minggu saya mencari tahu berapa peluang kehamilan ini bertahan," ujarnya menjawab pertanyaan penggemar.
Ketakutan itu tidak berhenti di trimester pertama. Kylie masih terus mencari jawaban hingga awal trimester kedua, bertanya-tanya apakah ia akan bisa bertemu bayinya. Baru menjelang akhir trimester kedua, ia mengubah pertanyaannya menjadi tentang peluang bayi bertahan jika dilahirkan prematur. "Di akhir trimester kedua, saya membalik pertanyaannya. Saya bertanya, berapa peluang jika saya melahirkan hari ini, bayi bisa bertahan?" kenangnya.
Perasaan cemas itu ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Kylie mengakui bahwa trauma keguguran terus membayangi kehamilan-kehamilan berikutnya. "Saya pikir itu akan menetap selamanya. Saya merasakan hal yang sama selama kehamilan-kehamilan berikutnya. Anda mengalami kehilangan, dan tidak apa-apa jika kesedihan itu menetap. Itu akan muncul saat Anda tidak menduganya," tuturnya. Namun, ia bersyukur tidak menyerah pada mimpinya memiliki keluarga. "Jika saya tidak mencoba lagi, saya tidak akan memiliki Wyatt. Terkadang Anda harus menghadapi hal sulit dan mencoba lagi," tambahnya.
Pada Oktober lalu, Kylie juga pernah mengungkapkan bahwa rasa sakit akibat keguguran "masih terasa" meski telah memiliki empat anak. Ia menekankan bahwa perasaan itu wajar dan perlu diakui. Dalam kesempatan lain, ia menceritakan momen ketika dokter tidak menemukan detak jantung bayi. "Semuanya terasa bergerak lambat. Mereka tidak bisa menemukan bayi di doppler. Saya ingat berpikir, 'Oh, tidak ada detak jantung. Kamu tidak menemukannya karena memang tidak ada,'" kisahnya. Dokter memperkirakan janin berhenti berkembang di usia 9-10 minggu, sebuah kondisi yang dikenal sebagai missed miscarriage, di mana tubuh tidak menyadari bahwa kehamilan tidak lagi viable.
Kylie juga mengisahkan momen sulit saat harus memberi tahu suaminya, Jason, tentang keguguran tersebut. Ironisnya, hari itu bertepatan dengan ulang tahun Jason. "Itu hari yang menyedihkan karena itu ulang tahun Jason. Saya menelepon ibu saya dan mengatakan tidak bisa memberi tahu Jason karena itu ulang tahunnya, yang terdengar konyol. Tentu saja saya akan memberi tahu suami saya. Dan saya melakukannya. Itu sulit bagi kami berdua," ujarnya sambil menangis.
Kisah Kylie Kelce menyoroti realitas pahit yang dihadapi banyak perempuan: keguguran bukan sekadar kehilangan fisik, tetapi juga luka emosional yang mendalam. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental ibu semakin mengemuka, terutama setelah masa pandemi. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 10-15 persen ibu hamil mengalami gangguan mental emosional, dan keguguran menjadi salah satu faktor risiko utama. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Nurul Hartini, menilai bahwa pengakuan publik seperti yang dilakukan Kylie dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong perempuan untuk mencari dukungan profesional. "Banyak perempuan yang merasa sendirian dalam pengalaman ini. Ketika figur publik berbicara terbuka, itu bisa menjadi validasi dan harapan bagi mereka," ujarnya.
Ke depan, kisah Kylie menjadi pengingat bahwa proses penyembuhan setelah keguguran tidak linear. Setiap perempuan memiliki cara berbeda untuk berduka dan bangkit. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan dan dukungan sosial di Indonesia sudah cukup siap untuk menemani mereka yang mengalami pengalaman serupa? Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, harapannya, semakin banyak ruang aman bagi perempuan untuk berbagi dan pulih.



