Jokowi Dianugerahi Gelar Adat Lampung: Simbol Penghormatan atau Strategi Budaya?
Baca dalam 60 detik
- Presiden ke-7 RI Joko Widodo menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' dari Kedatun Keagungan Lampung pada Sabtu, 27 Juni 2026.
- Gelar adat yang disematkan melalui prosesi muakhi ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi atas pengabdian Jokowi selama dua periode kepemimpinan nasional.
- Penganugerahan tersebut menjadi bagian dari agenda budaya tiga hari Jokowi di Lampung, sekaligus upaya memperkenalkan falsafah piil pesenggiri ke kancah nasional.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) resmi menyandang gelar adat 'Baginda Pemuka Bangsa' dalam sebuah prosesi sakral yang digelar di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6) pagi. Gelar tersebut bukan sekadar atribut seremonial, melainkan simbol penghormatan tertinggi masyarakat adat Lampung terhadap dedikasi mantan kepala negara selama satu dekade memimpin Indonesia.
Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama—yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur—menjelaskan bahwa pemberian gelar atau muakhi telah menjadi tradisi turun-temurun sejak ribuan tahun lalu. Tradisi ini berakar pada falsafah piil pesenggiri, yang menekankan nilai nemui nyimah atau silaturahmi. "Di kampung, muakhi adalah hal biasa. Namun kali ini dikemas sebagai prosesi budaya untuk mempererat persatuan bangsa sekaligus memperkenalkan kekayaan adat Lampung ke seluruh Nusantara," ujar Mawardi usai prosesi.
Prosesi pengangkatan saudara dan gelar adat ini melibatkan tiga persaudaraan adat: Penyeimbang Buwai Pemuka Way Kan, Buwai Subbing Terbanggi Balak, dan Buwai Bulan Megow Pak Tulang Bawang. Selain penyematan gelar, rangkaian acara juga diisi dengan untaian doa khusus yang dipanjatkan oleh para tokoh adat Kedatun Keagungan Lampung. Mawardi menegaskan bahwa gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' merupakan simbol apresiasi atas pengabdian Jokowi sebagai Presiden ke-7 RI.
Menyinggung pro-kontra di masyarakat terhadap sosok Jokowi, Mawardi menanggapinya dengan bijak. Menurutnya, setiap orang berhak memiliki penilaian masing-masing, namun rekam jejak Jokowi memimpin Indonesia selama dua periode adalah sebuah kesuksesan yang nyata. "Masyarakat itu banyak, pemikirannya pasti macam-macam sesuai dengan ilmu dan pengalamannya. Tetapi bagi kami, Pak Jokowi sukses memimpin Indonesia selama 10 tahun. Secara budaya, penilaian kami tentu sangat baik," ungkapnya.
Hubungan antara Kedatun Keagungan Lampung dan Jokowi ternyata sudah terjalin lama. Mawardi mengenang momen pertemuan di Istana Bogor saat membahas agenda repatriasi keraton se-Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa ikatan antara tokoh adat Lampung dan mantan presiden telah terbangun jauh sebelum prosesi penganugerahan gelar.
Penganugerahan gelar adat ini menjadi agenda utama hari kedua kunjungan tiga hari Jokowi di Lampung. Pada hari pertama, Jumat (26/6), Jokowi menghadiri Rakorda PSI di Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang serta mengikuti Kirab Pawai Budaya atau Karnaval Gajah. Setelah prosesi adat, ia melanjutkan kegiatan dengan menghadiri Rakorda PSI Kota Bandarlampung dan bertemu dengan relawan. Hari kedua ditutup dengan ramah tamah bersama pengurus PSI dan organisasi relawan. Sementara pada hari terakhir, Minggu (28/6), Jokowi dijadwalkan menghadiri Kirab Budaya Sekappung Limo Migo di Lampung Timur serta bersilaturahmi dengan para kiyai dan santri di sejumlah pondok pesantren.
Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, langkah Jokowi menerima gelar adat ini bisa dibaca sebagai upaya merawat jaringan kultural yang telah dibangun selama masa kepemimpinannya. Pertanyaannya, akankah simbol-simbol adat seperti ini cukup untuk menjaga pengaruh sang mantan presiden di panggung politik Indonesia ke depan?



