Liam Plunkett, Eks Bintang Kriket Inggris, Debut Profesional di Liga Bisbol AS
Baca dalam 60 detik
- Mantan pelempar cepat timnas Inggris, Liam Plunkett (41), mencatat sejarah sebagai pemain kriket Inggris pertama yang tampil profesional di bisbol, setelah debut bersama Oakland Ballers di Pioneer Baseball League.
- Dalam laga perdananya, Plunkett sukses melakukan strikeout terhadap satu pemain lawan, meski timnya harus menelan kekalahan 11-18 dari Yuba-Sutter Freebirds di hadapan 1.878 penonton.
- Fenomena atlet lintas cabang ini membuka diskusi tentang potensi pengembangan bakat olahraga di Indonesia, di mana atlet dari satu cabang bisa menjajal olahraga lain dengan adaptasi teknis yang tepat.

Liam Plunkett, mantan pelempar cepat andalan Inggris yang turut mengantarkan negaranya juara Piala Dunia Kriket 2019, kembali mencuri perhatian dunia olahraga. Kali ini, bukan di lapangan kriket, melainkan di atas gunduk bisbol Amerika Serikat. Pria berusia 41 tahun itu menjalani debut profesionalnya sebagai pelempar untuk Oakland Ballers dalam kompetisi Pioneer Baseball League, Jumat malam lalu.
Plunkett yang kini menetap di AS sejak lima tahun lalu, tampil di Raimondi Park dan melemparkan lima pitch. Ia berhasil men-strikeout pemain Yuba-Sutter Freebirds, Josh Duarte, di hadapan 1.878 suporter. Namun, aksi heroiknya belum cukup menyelamatkan Ballers dari kekalahan telak 11-18. Meski demikian, penampilan ini menjadi tonggak bersejarah: ia diyakini sebagai pemain kriket Inggris pertama yang turun di pertandingan bisbol profesional.
Keputusan Plunkett untuk beralih ke bisbol bukan tanpa persiapan. Dalam sesi latihan bersama Ballers, ia sempat mencoba memukul bola sebelum memutuskan bahwa melempar adalah kekuatan utamanya. "Ayunan saat memukul sangat berbeda dengan kriket, apalagi jika pelempar melemparkan bola dengan kecepatan 90 mil per jam," jelasnya. "Saya sebenarnya ingin memukul home run besar karena pasti viral!" candanya.
Fenomena atlet lintas cabang seperti Plunkett menarik untuk disimak, terutama dalam konteks Indonesia. Di Tanah Air, atlet dari cabang olahraga tertentu kadang menjajal olahraga lain, misalnya pesepakbola yang bermain futsal atau atlet atletik yang beralih ke rugby. Namun, langkah Plunkett menunjukkan bahwa dengan adaptasi teknis yang tepat—seperti memahami perbedaan ayunan dan kecepatan lemparan—seorang atlet bisa bersaing di cabang yang berbeda secara profesional. Ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan olahraga Indonesia, di mana atlet multi-cabang semakin didorong untuk memperluas peluang karier.
Meski demikian, Plunkett mengakui bahwa penampilannya di bisbol kemungkinan besar tidak akan berujung pada perubahan karier permanen. Ia tetap fokus pada MLC bersama San Francisco Unicorns. Pertanyaannya, akankah ada pemain kriket atau atlet Indonesia yang berani mengikuti jejaknya—menyeberang ke olahraga lain dan menorehkan sejarah serupa?



