Ben Whittaker: Dari Mimpi Las Vegas ke Debut Amerika di Brooklyn
Baca dalam 60 detik
- Petinju Inggris Ben Whittaker akan menjalani debut profesional di Amerika Serikat melawan Richard Rivera di Barclays Center, Brooklyn.
- Whittaker terinspirasi oleh Floyd Mayweather dan sitkom Everybody Hates Chris, menargetkan karier hingga ke Las Vegas.
- Dengan rekor 11-1-0 (8 KO), ia percaya gaya flamboyannya cocok dengan selera penggemar AS.

Ben Whittaker, petinju kelas berat ringan asal Inggris yang belum terkalahkan, akan mengawali petualangan barunya di Amerika Serikat pada Sabtu ini. Debutnya di hadapan publik AS melawan Richard Rivera di Barclays Center, Brooklyn, bukan sekadar pertarungan biasa—ini adalah langkah pertama menuju Las Vegas, kota yang menjadi rumah legenda Floyd Mayweather.
Whittaker, 29 tahun, tumbuh dengan ritual bangun pagi untuk menyaksikan Mayweather bertarung di MGM Grand. Kekaguman itu membentuk ambisinya. "Saya ingin terlibat dalam sesuatu yang spektakuler seperti itu," ujarnya. Namun, kecintaannya pada Amerika juga dipupuk oleh tayangan sitkom Everybody Hates Chris yang memperkenalkan Brooklyn dan New York. "Saya merasa sudah terhubung dengan New York sejak lama," tambahnya.
Dengan rekor profesional 11 kemenangan (8 KO) dan satu hasil imbang, Whittaker dijuluki 'The Surgeon' karena kemampuannya membongkar strategi lawan. Gaya flamboyannya kerap menuai kontroversi di Inggris—seperti karakter Marmite yang disukai atau dibenci—namun ia yakin publik AS akan menyukainya. "Penggemar Amerika suka tiga hal: tinju murni, hiburan, dan pertarungan sesungguhnya. Saya bisa memberikan semuanya," katanya.
Perjalanan Whittaker tidak mulus. Cedera, masalah promosi, dan hasil imbang kontroversial saat ia jatuh dari ring melawan Liam Cameron sempat menghambat lajunya. Namun, ia merasa berada di jalur yang tepat. "Saya melihat peringkat, saya di posisi 2 atau 3 IBF dan WBC. Dengan jumlah pertarungan yang sedikit, itu posisi yang bagus," ujarnya.
Menariknya, Whittaker sempat bercita-cita menjadi rapper dengan nama panggung Benzo. Namun, sang kekasih menghentikan ambisi itu. "Dia bilang malu, jadi saya berhenti dulu. Mungkin nanti saya kembali, tapi untuk sekarang dia bosnya," candanya.
Pertarungan ini menjadi bagian dari undercard laga perebutan gelar super-welterweight WBA dan WBO antara Xander Zayas dan Jaron Ennis. Bagi Whittaker, ini adalah batu loncatan. "Langkah kecil: mulai di New York, selesai di Vegas," pungkasnya.
Dengan gaya yang diyakini cocok untuk pasar AS dan peringkat yang menjanjikan, Whittaker berpeluang menjadi bintang global. Namun, akankah ia mampu menjaga fokus di tengah gemerlap hiburan dan tekanan debut? Pertarungan Sabtu ini akan menjadi jawaban awal.



