Regulator Keuangan Global Bergegas Bentuk Alat AI Sendiri untuk Hadapi Risiko Siber
Baca dalam 60 detik
- Otoritas pasar modal global yang mewakili 95% pasar keuangan dunia mulai mengadopsi kecerdasan buatan untuk mengawasi sistem keuangan yang makin rentan.
- Swiss memimpin inisiatif hackathon internasional yang melibatkan 100 pakar untuk menciptakan alat pengawasan kripto dan deteksi celah keamanan.
- Larangan ekspor model AI AS ke China dan munculnya tandingan domestik China menambah ketegangan geopolitik di sektor teknologi finansial.

Serangan siber yang makin canggih berkat kecerdasan buatan (AI) memaksa otoritas keuangan global untuk tidak hanya memperketat aturan, tetapi juga mengembangkan senjata digital mereka sendiri. Marlene Amstad, ketua otoritas pasar modal Swiss FINMA sekaligus ketua forum teknologi pengawasan internasional, menegaskan bahwa bank dan regulator harus bergerak cepat mengadopsi teknologi baru guna menambal celah sistem yang kian rentan.
Dalam wawancara dengan Reuters, Amstad mengungkapkan bahwa model deteksi kerentanan perangkat lunak belakangan ini menunjukkan lonjakan risiko serangan siber dan ancaman keamanan nasional. AI, menurutnya, memunculkan pertanyaan serius tentang keselamatan dan akuntabilitas di institusi keuangan. "Peretas bergerak lebih cepat, bank harus beradaptasi dengan menambal kerentanan secara lebih cepat," ujarnya.
FINMA turut mendorong pembentukan forum di bawah International Organization of Securities Commissions (IOSCO), badan penetap standar regulasi pasar, untuk mempromosikan adopsi AI oleh para pengawas yang mencakup sekitar 95 persen pasar keuangan global. Pekan ini, sekitar 100 spesialis kebijakan dan teknologi berkumpul dalam hackathon yang bertujuan membangun alat bersama untuk pengawasan pasar kripto. Amstad menambahkan bahwa regulator juga tengah mempertimbangkan untuk menyematkan mekanisme pengaman langsung ke dalam sistem aset digital.
Pengalaman dengan model AI seperti Mythos buatan Anthropic telah memperlihatkan kerentanan yang mengungkap risiko operasional terkait AI. Bulan ini, pemerintah AS memerintahkan Anthropic untuk menghentikan ekspor model Mythos dan Fable terbarunya dengan alasan keamanan nasional. Di sisi lain, perusahaan keamanan siber China, 360 Security Technology, pekan ini mengumumkan telah mengembangkan jawaban domestik untuk Mythos.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan regulator keuangan dalam menghadapi era AI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) perlu mulai mempertimbangkan investasi dalam teknologi pengawasan berbasis AI, mengingat sektor keuangan digital di Indonesia tumbuh pesat dan rentan terhadap serangan siber. Kolaborasi internasional seperti yang diprakarsai FINMA bisa menjadi model bagi Indonesia untuk bergabung dalam upaya global memperkuat ketahanan sistem keuangan.
Amstad menekankan bahwa Swiss harus tetap memiliki akses ke model AI paling canggih, dan AI akan menjadi alat penting untuk memperkuat sistem sebelum diterapkan. Pertanyaannya, mampukah regulator di negara berkembang seperti Indonesia mengejar ketertinggalan teknologi di tengah persaingan geopolitik yang semakin ketat?



