Serangan Siber Iran ke Israel Melonjak Tiga Kali Lipat dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Direktur Nasional Siber Israel melaporkan lonjakan insiden siber Iran dari 1.600 menjadi 4.800 per bulan dalam setahun terakhir.
- Serangan menyasar infrastruktur kritis, perusahaan kecil-menengah, dan publik, dengan beberapa kasus penghapusan data sistem.
- Peningkatan ini terjadi seiring eskalasi militer AS-Israel terhadap Iran, menunjukkan perluasan medan perang ke ranah digital.

Serangan siber Iran terhadap Israel meningkat drastis sepanjang tahun lalu, sejalan dengan dimulainya ofensif militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran. Kepala Badan Siber Nasional Israel, Yossi Karadi, mengungkapkan bahwa jumlah insiden bermusuhan yang terdaftar pada Juni 2026 mencapai 4.800 kasus, tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sekitar 1.600 insiden.
Dalam wawancara dengan harian Jerman Die Welt, Karadi menekankan bahwa kelompok peretas Iran menunjukkan kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. "Beberapa kelompok sangat terampil. Kami bisa menanganinya, tapi harus serius. Tidak seperti di ranah kinetik, tidak ada gencatan senjata di dunia maya," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi perubahan sifat konflik yang kini merambah ke dimensi digital tanpa batas waktu.
Serangan tersebut tidak hanya menyasar infrastruktur vital Israel, tetapi juga organisasi pusat, perusahaan kecil dan menengah, serta masyarakat umum. Karadi menyebut kantor hukum dan firma akuntansi sebagai contoh entitas yang lebih rentan dan kerap mengalami penghapusan total sistem komputer mereka. Meski demikian, ia mengklaim pihaknya sejauh ini berhasil menangkis serangan terhadap infrastruktur kritis.
Bagi Indonesia, eskalasi perang siber di Timur Tengah menjadi pengingat akan kerentanan negara berkembang terhadap serangan digital. Infrastruktur nasional seperti sistem perbankan, kelistrikan, dan data pemerintahan kerap menjadi target. Meski Indonesia tidak terlibat langsung, efek limpahan dari konflik siber global bisa berdampak pada keamanan data dan stabilitas ekonomi digital Tanah Air. Pengalaman Israel dalam membangun pertahanan siber yang tangguh bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah memperkuat Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Karadi tidak menyebutkan nama spesifik perusahaan yang menjadi korban, namun ia mengingatkan bahwa entitas dengan keamanan siber lemah adalah sasaran empuk. "Sejauh ini โ dan semoga tetap begitu โ kami berhasil menangkis serangan terhadap infrastruktur kritis," katanya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa meskipun pertahanan lapis pertama berfungsi, ancaman terus berkembang dan membutuhkan kewaspadaan konstan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah serangan siber akan meningkat, tetapi seberapa siap setiap negara โ termasuk Indonesia โ menghadapi perang asimetris di dunia maya yang tidak mengenal gencatan senjata. Akankah investasi keamanan siber nasional mampu mengimbangi kecepatan inovasi para peretas?



