Kapal Kontainer Berbendera Singapura Kena Proyektil di Selat Hormuz, Awak Selamat
Baca dalam 60 detik
- Kapal Ever Lovely milik Evergreen Marine mengalami kerusakan ringan akibat proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz.
- Seluruh 21 awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada warga Singapura di dalamnya, namun insiden ini memicu kekhawatiran akan keselamatan pelayaran internasional.
- Insiden ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang mendorong Iran mengeluarkan peringatan baru tentang jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely, mengalami kerusakan ringan setelah terkena proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Insiden yang terjadi pada Kamis malam (25/6) waktu setempat itu langsung memicu respons dari Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) yang menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan yang dinilai melanggar hukum internasional.
Menurut pernyataan MPA, kapal yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Taiwan Evergreen Marine Corp itu terkena proyektil sekitar pukul 22.00 waktu Singapura saat meninggalkan Selat Hormuz. Akibatnya, area jembatan kapal mengalami kerusakan, namun seluruh 21 awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada warga negara Singapura di antara mereka. Kapal telah melanjutkan pelayaran setelah menyelesaikan transit melalui selat tersebut.
Evergreen Marine dalam pernyataan resminya kepada bursa efek Taiwan mengonfirmasi bahwa kapal sedang mengikuti rute yang direkomendasikan oleh UK Maritime Trade Operation saat terkena "benda tak dikenal". Pemeriksaan awal menunjukkan kerusakan pada bagian atap struktur jembatan dan kaca jembatan. Mesin utama dan seluruh peralatan navigasi tetap berfungsi normal, dan kapal dinyatakan layak laut.
MPA menegaskan bahwa insiden ini tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, dan merupakan pelanggaran hukum internasional. Otoritas tersebut akan terus berkoordinasi dengan perusahaan manajemen kapal untuk memberikan bantuan yang diperlukan. Insiden ini juga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menunda upaya evakuasi pelaut yang terjebak di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengatakan bahwa rencana evakuasi dihentikan sementara untuk memastikan kembali jaminan keselamatan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan global. Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi pasokan minyak dan gas, termasuk yang diimpor Indonesia. Ketegangan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok dan mendorong kenaikan biaya logistik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan memperkuat diplomasi maritim untuk melindungi kepentingan nasional.
Pasca-insiden, otoritas Iran yang mengklaim mengatur lalu lintas di kawasan tersebut, Persian Gulf Strait Authority (PGSA), mengeluarkan peringatan bahwa setiap pelayaran di luar rute yang ditetapkan tidak akan dijamin keamanannya. Iran sebelumnya pernah memberlakukan blokade di selat tersebut selama perang, yang memicu guncangan ekonomi global. Kini, Iran juga berencana memberlakukan biaya jasa maritim, sebuah langkah yang telah diperingatkan oleh Amerika Serikat. Kedua pihak masih berupaya mencapai kesepakatan akhir setelah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai sejak akhir Februari.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah insiden ini akan memicu eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz atau justru mendorong negosiasi yang lebih cepat. Dengan rute pelayaran yang semakin rawan, industri maritim global dan negara-negara pengguna jalur ini, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi skenario terburuk.



