Trump Tuntut Kompensasi dari Iran, Peluang Kesepakatan Selat Hormuz Kian Tipis
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan menuntut ganti rugi dari Iran atas korban jiwa yang ditudingkan, sebuah langkah yang belum pernah muncul dalam perundingan sebelumnya.
- Permintaan ini berpotensi memicu eskalasi baru di Timur Tengah dan menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
- Dengan pemilu paruh waktu AS yang semakin dekat, tekanan politik domestik terhadap Trump untuk mengakhiri perang semakin besar, namun tuntutan kompensasi justru bisa memperumit jalan menuju perdamaian.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menuntut kompensasi dari Iran atas kematian dan luka-luka yang ditudingkan disebabkan oleh Tehran dalam berbagai konflik. Pernyataan yang diunggah melalui platform Truth Social pada Senin (10/8) itu langsung memicu kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 4,25 persen, menambah ketegangan di tengah meredupnya harapan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz.
Tuntutan Trump ini merupakan respons atas permintaan Iran agar Washington memenuhi sejumlah syarat, termasuk membayar ganti rugi atas kerusakan akibat serangan AS-Israel sejak lima bulan lalu. Namun, langkah Trump dinilai sebagai eskalasi baru yang belum pernah muncul dalam perundingan sebelumnya. Ia bahkan mengaitkan tuntutan ini dengan serangan USS Cole pada 2000 yang menewaskan 17 pelaut AS, meskipun peristiwa itu selama ini dikaitkan dengan Al Qaeda, bukan Iran.
Di sisi lain, Iran mengklaim negosiasi dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz berjalan "lancar dan konstruktif". Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut kesepakatan peta rute telah dicapai, meski masih ada masalah teknis terkait pernyataan bersama. Namun, AS menegaskan tidak akan menerima kesepakatan yang memberi Iran kendali atau hak memungut biaya atas akses selat tersebut.
Ketegangan ini terjadi di tengah kebuntuan militer. Serangan AS selama dua pekan pada Juli gagal mematahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Gencatan senjata Juni pun kandas setelah AS memberlakukan blokade baru pada Juli. Iran terus membalas dengan rudal dan drone, menargetkan kapal komersial yang melintas tanpa izin, sementara sekutu Tehran, Houthi di Yaman, juga meningkatkan serangan di jalur pelayaran lain.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, termasuk untuk Asia. Gangguan di selat tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga energi global, yang pada akhirnya mempengaruhi inflasi dan anggaran subsidi energi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Menurut analis, tuntutan kompensasi Trump lebih bernuansa politik domestik. Dengan pemilu paruh waktu November yang semakin dekat, perang yang tidak populer menjadi beban berat. Trump berusaha menunjukkan sikap tegas terhadap Iran, namun langkah ini justru berisiko memperpanjang konflik dan menunda solusi diplomatik. Sementara itu, Iran tampaknya tidak akan mudah menyerah, mengingat posisi strategisnya di selat tersebut.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah tuntutan kompensasi ini hanya retorika belaka atau akan menjadi prasyarat formal dalam perundingan berikutnya. Jika benar-benar diterapkan, jalan menuju perdamaian akan semakin berliku, dan stabilitas pasokan energi global akan terus terancam.


