Arsenal Incar Cristian Romero: Kapten Tangguh atau Bom Waktu di Lini Belakang?
Baca dalam 60 detik
- Arsenal serius mendekati bek Tottenham Cristian Romero untuk menambal lubang di pos bek tengah, dengan banderol sekitar £42 juta.
- Meski reputasinya gemilang di timnas Argentina, catatan disiplin Romero di Premier League—enam kartu merah dalam lima tahun—menjadi kekhawatiran utama.
- Kedatangan Romero akan melengkapi perombakan lini tengah Arsenal setelah sukses mengamankan Bruno Guimaraes dari Newcastle.

Arsenal dikabarkan tengah menjajaki transfer bek tengah Tottenham Hotspur, Cristian Romero, sebagai prioritas utama untuk memperkuat lini pertahanan mereka yang rapuh. Langkah ini muncul setelah sukses mendatangkan gelandang Brasil, Bruno Guimaraes, dari Newcastle United, dan kini fokus bergeser pada kebutuhan mendesak di sektor bek, terutama untuk menutup absennya William Saliba yang kerap cedera.
Menurut laporan Football Transfers, direktur olahraga Arsenal, Andrea Berta, telah mengadakan pembicaraan langsung dengan perwakilan Romero. Pembicaraan tersebut dilaporkan berjalan positif, dan sang pemain dikabarkan tertarik untuk pindah ke rival sekota meski Tottenham enggan melepas kapten mereka itu. Nilai transfer yang disebutkan sekitar £42 juta, angka yang relatif terjangkau untuk pemain sekaliber Romero yang telah membuktikan diri di Premier League.
Ketertarikan Arsenal pada Romero bukannya tanpa kontroversi. Sebagian suporter The Gunners masih ingat bagaimana Romero kerap menjadi biang keladi kartu merah dan kesalahan fatal di lini belakang Spurs. Sejak bergabung pada 2021, pemain asal Argentina itu telah menerima enam kartu merah dalam lima musim—catatan yang membuatnya dijuluki sebagai 'liability' atau beban di pertahanan. Namun, di sisi lain, Romero adalah kapten yang memiliki mentalitas juara, seperti yang pernah diungkapkan manajer Tottenham, Ange Postecoglou, dalam wawancara dengan The Overlap.
“Apakah Anda lebih suka Roy Keane di tim Anda atau melawan Anda? Kami tidak akan pernah memenangkan final Liga Europa tanpa Romero,” ujar Postecoglou. “Sebelum kick-off, dia membawa tim kami ke area Manchester United untuk melakukan huddle karena pendukung kami berada di sisi itu. Dia tidak takut pada apa pun. Dia pemenang. Saya suka pemenang.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Romero memiliki jiwa kepemimpinan yang langka, sesuatu yang tengah dibangun Arteta di skuadnya.
Jika transfer ini terwujud, Arsenal akan mendapatkan pemain dengan profil mirip Guimaraes: kapten klub, berpengalaman di Premier League, dan memiliki semangat juang tinggi. Namun, risiko disiplin yang melekat pada Romero menjadi pertanyaan besar. Apakah Arteta mampu mengekang sisi liar Romero, atau justru akan menjadi bom waktu di lini belakang? Keputusan ini akan menjadi ujian bagi manajer asal Spanyol itu dalam meracik tim yang seimbang antara kualitas dan kestabilan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub-klub besar Eropa berani mengambil risiko pada pemain dengan karakter kontroversial demi kebutuhan taktis. Jika Romero bergabung, lini belakang Arsenal akan semakin kokoh secara mental, tetapi juga rawan kecelakaan. Pertanyaannya, apakah Arteta akan mampu memanfaatkan sisi terbaik Romero tanpa harus menanggung konsekuensi dari kedisiplinannya yang buruk? Musim depan akan menjadi jawabannya.



