Dolar AS Terkoreksi Dua Hari Beruntun, Yen Jepang di Ambang Intervensi
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS turun 0,39% pada Jumat (26/6) setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi dan harga minyak mentah ambles 4%.
- Yen Jepang melemah ke 161,59 per dolar AS, mendekati level terlemah sejak 1986, memicu spekulasi intervensi otoritas moneter Jepang.
- Analis Wells Fargo merekomendasikan posisi short dolar terhadap yen jangka pendek menjelang laporan tenaga kerja AS pekan depan.

Dolar Amerika Serikat melanjutkan pelemahan untuk hari kedua berturut-turut pada Jumat (26/6), didorong oleh data inflasi yang sesuai ekspektasi dan penurunan harga minyak mentah global yang meredam spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Namun, posisi yen Jepang yang kian terpuruk mendekati rekor terlemah sejak 1986 membuat pasar waspada terhadap potensi intervensi dari Bank of Japan.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,39 persen ke 101,11 β penurunan dua hari terbesar sejak awal Mei. Pelemahan ini terjadi setelah dolar mencatat kenaikan tiga hari beruntun di awal pekan, didorong oleh pernyataan hawkish dari Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, dan data ekonomi AS yang solid. Meski terkoreksi, dolar masih berada di jalur penguatan mingguan dan bulanan terkuat sejak Maret, setelah menyentuh level tertinggi 13 bulan pada awal pekan.
Data inflasi AS yang dirilis Kamis lalu menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sesuai perkiraan ekonom, sementara harga minyak mentah ambles sekitar 4 persen pada Jumat karena meningkatnya jumlah kapal tanker yang meninggalkan Selat Hormuz. Kombinasi ini sedikit meredam ekspektasi kenaikan suku bunga agresif. Namun, menurut data LSEG, pasar masih memperhitungkan kenaikan suku bunga sekitar 25 basis poin dari The Fed tahun ini.
Di pasar valuta asing, euro menguat 0,43 persen ke US$1,1418, sementara poundsterling naik 0,24 persen ke US$1,3223 meski masih berada di jalur pelemahan mingguan kedua berturut-turut. Perhatian utama tertuju pada yen Jepang yang melemah 0,12 persen ke 161,59 per dolar AS. Level 161,96 menjadi batas psikologis; jika ditembus, yen akan mencapai titik terlemah sejak 1986. Data inflasi inti Tokyo yang lebih cepat dari perkiraan pada Juni memberikan sedikit dukungan bagi yen, namun tekanan jual masih dominan.
βTidak hanya karena Warsh dan data baru, tetapi juga karena pasar dolar sedang bullish sejak Januari. Jadi sedikit koreksi tidak mengejutkan,β ujar Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet New York.
Analis Wells Fargo melihat peluang jangka pendek dengan mengambil posisi short dolar terhadap yen menjelang laporan tenaga kerja AS pekan depan. Menurut mereka, otoritas Jepang dapat memanfaatkan data penggajian AS yang lemah atau sedikit lunak untuk melakukan intervensi. Namun, mereka menekankan bahwa ini hanya strategi jangka pendek, dan tetap merekomendasikan posisi long dolar setelah awal Juli.
Bagi Indonesia, pelemahan dolar AS dapat memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk menguat, meskipun tekanan dari kenaikan suku bunga global masih membayangi. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan yen dan potensi intervensi Jepang, karena gejolak di pasar valuta asing Asia dapat berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah. Ke depan, pasar akan fokus pada data tenaga kerja AS pekan depan yang bisa menjadi penentu arah kebijakan The Fed selanjutnya.



