Rupiah Menguat ke Rp17.835, Investor Menanti Sinyal Stabilitas Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup menguat 0,39% ke Rp17.835 per dolar AS pada Senin (29/6), didorong koreksi indeks dolar global.
- Bank Indonesia telah menggelontorkan likuiditas Rp1.000 triliun dan menaikkan suku bunga 100 bps untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
- Pertemuan DPR dengan otoritas fiskal dan moneter menegaskan prioritas menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan global.

Nilai tukar rupiah berhasil mempertahankan tren positif pada awal pekan ini, ditutup menguat 0,39% ke posisi Rp17.835 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (29/6/2026). Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang terkoreksi 0,15% ke level 101,203, memberikan ruang bagi mata uang Garuda untuk bergerak di zona hijau sepanjang hari.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Dolar AS masih berada dalam tren penguatan bulanan terbesar dalam hampir setahun, didorong oleh ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, imbal hasil surat utang AS yang tetap tinggi, serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data tenaga kerja AS pekan ini. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap sentimen eksternal.
Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran yang saling melontarkan pernyataan keras akhir pekan lalu kemudian sepakat menghentikan serangan balasan dan dijadwalkan bertemu di Qatar pada Selasa (30/6). Pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan gencatan senjata tersebut, yang dapat mempengaruhi harga minyak dan arus modal global.
Di dalam negeri, para pimpinan DPR menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi ekonomi pada hari yang sama. Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun, Ketua Banggar Said Abdullah, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu. Pertemuan ini menyoroti pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi jangka pendek di tengah gejolak harga komoditas global.
Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menekankan bahwa prioritas utama adalah menjaga kestabilan makroekonomi, terutama karena kenaikan harga minyak mentah berisiko mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. "Ada kesepakatan yang tercapai bahwa yang penting menjaga kestabilan makro ekonomi di jangka pendek karena kita sudah melihat dampak ketidakpastian global," ujarnya. Ia juga menyoroti perlunya menjaga kepercayaan investor, mengingat pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan mata uang negara peers.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa bank sentral telah melakukan ekspansi likuiditas hingga Rp1.000 triliun pada akhir Juni, naik dari Rp600 triliun pada akhir Mei. Langkah ini bertujuan untuk menjaga kecukupan likuiditas di sistem perekonomian dan mencegah gejolak di pasar uang dan pasar valas. Selain itu, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir menjadi 5,75% dan menyesuaikan harga instrumen operasi moneter untuk menarik aliran modal asing. Destry mencatat bahwa aliran dana asing ke instrumen SBN dan SRBI sepanjang tahun berjalan hingga 26 Juni telah mencapai sekitar US$9 miliar, dengan arus masuk yang signifikan terjadi pada bulan Juni.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran, data tenaga kerja AS, serta konsistensi kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas. Apakah langkah BI dan koordinasi fiskal-moneter cukup untuk mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang.



