IHSG Menguat Tipis di Awal Pekan, Investor Waspadai Eskalasi AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka naik 0,61% ke 5.932 namun berbalik melemah 0,24% dalam beberapa menit, mencerminkan sentimen pasar yang rapuh.
- Ketegangan AS-Iran pasca serangan di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik dan menekan bursa Asia, terutama Kospi yang anjlok 2,29%.
- Pekan ini investor akan mencermati data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, serta pidato Gubernur The Fed di tengah kelelahan pasar terhadap saham AI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pekan ini dengan penguatan tipis, namun momentum itu segera sirna saat tekanan jual muncul di menit-menit awal. Senin (29/6/2026) pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat naik 0,61% ke level 5.932,03, tetapi tak lama kemudian berbalik ke zona merah dengan koreksi 0,24%. Pergerakan ini menggambarkan betapa rapuhnya kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Volume transaksi pada pembukaan mencapai 142,23 juta saham dengan nilai Rp 110,45 miliar, melibatkan 23.927 kali transaksi. Sebanyak 201 saham menguat, 103 melemah, dan 309 stagnan. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, DSSA, dan MAPI menjadi yang paling aktif diperdagangkan. Namun, aksi ambil untung cepat dan kekhawatiran geopolitik membuat indeks sulit bertahan di zona hijau.
Pekan ini menjadi krusial bagi pasar keuangan Indonesia dengan rilis sejumlah data ekonomi penting. Pelaku pasar akan memantau inflasi Indonesia, neraca perdagangan, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dapat mengubah ekspektasi suku bunga global. Selain itu, aktivitas manufaktur China, inflasi Eropa, dan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh juga menjadi perhatian. Rangkaian data ini diperkirakan menjadi penentu pergerakan rupiah, IHSG, obligasi, hingga harga komoditas sepanjang pekan.
Di kawasan Asia-Pasifik, bursa saham bergerak mixed setelah ketegangan AS-Iran kembali memanas. AS melancarkan serangan ke target militer Iran di akhir pekan sebagai balasan atas aksi Teheran di sekitar Selat Hormuzโjalur vital pasokan minyak dunia. Presiden Donald Trump melalui Truth Social mengancam akan terus menghantam lokasi rudal dan drone Iran. Akibatnya, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,35%, Kospi Korea Selatan anjlok 2,29%, sementara S&P/ASX 200 Australia justru naik 0,41%. Harga minyak ikut terkerek: Brent naik 0,8% ke US$72,57 dan WTI naik 1,1% ke US$70 per barel.
Bagi investor Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan biaya impor energi. Di sisi lain, Wall Street menutup pekan lalu dengan rotasi besar-besaran dari saham teknologi ke sektor lain. S&P 500 terkoreksi hampir 2%, Nasdaq Composite ambles 4,6%, sementara Dow Jones justru menguat 0,6%. Saham Nvidia dan Alphabet masing-masing kehilangan lebih dari 8%, sedangkan Meta, Apple, dan Amazon turun lebih dari 4%. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menyebut fenomena ini sebagai "kelelahan AI"โpasar mulai meragukan apakah belanja besar infrastruktur kecerdasan buatan akan menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Pekan ini juga menandai akhir perdagangan Juni. Hingga Jumat lalu, S&P 500 turun sekitar 3% sepanjang bulan, Nasdaq merosot lebih dari 6%, namun Dow Jones masih mencatat kenaikan lebih dari 1%. Pertanyaannya, mampukah IHSG bertahan di tengah tekanan global dan domestik, atau justru akan kembali terpuruk mengikuti koreksi bursa global? Semua akan terjawab setelah data inflasi Indonesia dan pidato The Fed dirilis dalam beberapa hari ke depan.



