Pertemuan Kembali Angus Bell dengan 'Sahabat Seumur Hidup' di Nations Championship
Baca dalam 60 detik
- Pemain prop Australia Angus Bell akan berhadapan dengan mantan rekan setimnya di Ulster yang kini membela Irlandia pada Nations Championship 4 Juli.
- Bell menghabiskan delapan bulan di Belfast dan mengaku telah menjalin persahabatan erat dengan para pemain Ulster, membuat laga nanti terasa emosional.
- Pengaruh pelatih Joe Schmidt, yang pernah menangani Irlandia dan kini menukangi Wallabies, masih terasa dalam gaya permainan kedua tim.

Angus Bell, pilar depan tim nasional Australia, akan menghadapi ujian emosional saat Wallabies menjamu Irlandia dalam laga pembuka Nations Championship di Sydney, 4 Juli mendatang. Pasalnya, di kubu lawan terdapat sejumlah pemain yang baru saja menjadi rekan setimnya di klub Ulster, Irlandia Utara, selama delapan bulan terakhir.
Pemain berusia 25 tahun itu bergabung dengan Ulster pada musim lalu dengan kontrak jangka pendek dari Waratahs. Ia meninggalkan Belfast setelah kekalahan di final Challenge Cup melawan Montpellier pada Mei lalu. Kini, ia harus berhadapan dengan wajah-wajah yang akrab, termasuk 10 pemain Ulster yang dipanggil memperkuat Irlandia untuk tiga pertandingan awal Nations Championship melawan Australia, Jepang, dan Selandia Baru.
“Mereka adalah teman seumur hidup,” ujar Bell, menggambarkan kedekatannya dengan para pemain Ulster seperti Robert Baloucoune, Stuart McCloskey, Jacob Stockdale, dan Nathan Doak di lini belakang, serta Tom O’Toole, Tom Stewart, Cormac Izuchukwu, dan Nick Timoney di barisan depan. Dua bersaudara Zac dan Bryn Ward juga masuk skuad Irlandia sebagai pemain pengganti akibat cedera.
Bell mengakui bahwa budaya yang mirip antara Belfast dan Australia membantunya beradaptasi dengan cepat. “Mereka sangat mirip dengan orang Australia—suka bir, pub, dan berkumpul. Saya punya teman seumur hidup dari Irlandia Utara,” katanya. Meski belum tahu berapa banyak mantan rekan setimnya yang akan turun di Sydney, Bell mengaku sudah berkomunikasi dengan mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Selain ikatan personal, laga ini juga menyoroti jejak Joe Schmidt, pelatih kepala Wallabies yang sebelumnya sukses membesarkan Irlandia. Schmidt membawa Irlandia meraih Grand Slam Six Nations 2018 serta gelar pada 2014 dan 2015. Pengaruhnya masih terasa di kedua kubu. “Menurut saya, Joe telah menanamkan banyak hal pada rugby Irlandia. Formasi Ulster pun mirip dengan apa yang kami lakukan di Australia,” ujar Bell.
Pengalaman bermain di United Rugby Championship (URC) juga disebut Bell meningkatkan kemampuannya, terutama dalam scrum. “Di URC, setiap pekan kami menghadapi tim dari lima negara berbeda—Irlandia, Skotlandia, Wales, Italia, Afrika Selatan—ditambah lawan dari Inggris dan Prancis di Challenge Cup. Ini tantangan yang tidak saya dapatkan di Super Rugby,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa scrum di URC lebih bervariasi dibanding Super Rugby yang cenderung rapi.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, pertemuan ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan bagaimana persahabatan dan rivalitas bisa berpadu di level internasional. Selain itu, Nations Championship merupakan ajang baru yang menggantikan tur tradisional, memberikan warna berbeda dalam kalender rugby global. Pertanyaan besarnya: akankah Bell mampu menekan emosinya dan tampil maksimal melawan sahabat-sahabatnya?



