Kingdom Come Deliverance II Tembus 6 Juta Kopi, Bukti Pasar Game Naratif Masih Bergairah
Baca dalam 60 detik
- RPG besutan Warhorse Studios mencatatkan penjualan 6 juta kopi dalam waktu kurang dari setengah tahun sejak rilis.
- Capaian ini mengonfirmasi bahwa game single-player dengan cerita mendalam masih memiliki tempat di tengah dominasi game live-service.
- Kesuksesan KCD2 bisa menjadi sinyal positif bagi pengembang lokal Indonesia yang fokus pada game berbasis narasi dan sejarah.

Warhorse Studios kembali menorehkan prestasi. Kingdom Come Deliverance II, RPG berlatar Eropa abad ke-15, resmi menembus angka penjualan 6 juta kopi di seluruh dunia. Pengumuman ini disampaikan oleh Plaion France melalui akun media sosial resminya pada akhir Juni 2026, hanya beberapa bulan setelah game tersebut dirilis pada Februari 2025.
Pencapaian ini menempatkan KCD2 sebagai salah satu RPG paling laris dalam dua tahun terakhir. Sebagai perbandingan, seri pertamanya butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai angka serupa. Kenaikan penjualan yang cepat menunjukkan bahwa pendekatan Warhorse yang mengedepankan realisme historis dan narasi non-linear berhasil menarik perhatian gamer global. Game ini juga masuk dalam nominasi Game of the Year di ajang The Game Awards 2025, bersaing dengan judul-judul raksasa lainnya.
Kesuksesan KCD2 menjadi angin segar di tengah industri yang belakangan didominasi oleh game live-service dan model monetisasi mikro. Banyak analis menilai bahwa capaian ini membuktikan bahwa gamer masih haus akan pengalaman naratif yang matang, tanpa perlu bergantung pada konten berbayar berulang. "Ini adalah kemenangan bagi game sebagai medium seni," ujar seorang pengamat industri dari firma analis pasar game, Niko Partners, dalam pernyataannya.
Bagi industri game Indonesia, capaian KCD2 memberikan pelajaran berharga. Meskipun pasar game Tanah Air lebih condong ke game mobile dan e-sports, segmen game PC dan konsol premium mulai menunjukkan pertumbuhan. Beberapa pengembang indie lokal seperti Mojiken Studio dan Toge Productions telah sukses dengan game naratif seperti "A Space for the Unbound" dan "Coffee Talk". Keberhasilan KCD2 bisa menjadi dorongan bagi mereka untuk terus menggarap game dengan cerita lokal yang kuat, tanpa harus mengikuti tren pasar massal.
Namun, tantangan tetap ada. Biaya produksi game AAA seperti KCD2 sangat tinggi, mencapai puluhan juta dolar. Untuk pengembang Indonesia, skala tersebut masih sulit dijangkau. Meski begitu, model pendekatan Warhorse yang memulai dari Kickstarter dan komunitas bisa menjadi inspirasi. "Kuncinya adalah membangun basis penggemar yang loyal sejak awal," kata seorang eksekutif dari Asosiasi Game Indonesia (AGI) saat dihubungi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Warhorse Studios mampu mempertahankan momentum ini dengan konten tambahan atau sekuel berikutnya. Dengan basis pemain yang sudah besar, potensi untuk ekspansi ke pasar Asia, termasuk Indonesia, juga terbuka lebar. Apakah gamer Tanah Air akan menyambut hangat petualangan Henry di Bohemia? Waktu yang akan menjawab.



