Harga Memori Diprediksi Melonjak 50% pada Kuartal III 2026, Kapan Turun?
Baca dalam 60 detik
- Analis Jefferies memperkirakan harga memori global naik 40-50% pada Q3 2026 dan 30-40% pada Q4 2026.
- Kenaikan tahunan diperkirakan mencapai 40-45%, dipicu oleh ketatnya pasokan dan permintaan tinggi.
- Penurunan harga baru terlihat pada 2028 seiring penambahan kapasitas produksi baru.

Kabar buruk kembali menghampiri pasar memori global. Meskipun beberapa produsen seperti Micron berencana membekukan harga RAM yang sudah tinggi, tren kenaikan diprediksi terus berlanjut hingga akhir tahun. Laporan terbaru dari Jefferies Equity Research mengindikasikan lonjakan harga yang signifikan dalam waktu dekat.
Menurut riset Jefferies, harga memori diperkirakan melonjak 40 hingga 50 persen pada kuartal ketiga 2026 dibandingkan kuartal saat ini. Lonjakan tersebut kemudian diikuti kenaikan tambahan sebesar 30 hingga 40 persen pada kuartal keempat. Secara tahunan, kenaikan harga diproyeksikan mencapai 40 hingga 45 persen. Angka ini jauh di atas inflasi normal dan menjadi tekanan baru bagi industri teknologi.
Pemicu utama kenaikan ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Di satu sisi, permintaan memori terus meningkat seiring pertumbuhan pusat data, kecerdasan buatan, dan perangkat konsumen. Di sisi lain, kapasitas produksi global belum mampu mengimbangi, terutama setelah periode penurunan investasi pabrik baru. Beberapa pabrikan besar seperti Samsung dan SK Hynix masih dalam tahap ramp-up produksi.
Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga memori berdampak langsung pada harga laptop, PC rakitan, dan komponen upgrade. Sebagian besar perangkat elektronik di Indonesia bergantung pada impor memori, sehingga fluktuasi harga global akan terasa di pasar domestik. Para pengamat memperkirakan harga RAM DDR5 dan SSD NVMe bisa naik dua kali lipat dalam setahun, mendorong konsumen untuk menunda pembelian atau beralih ke produk bekas.
"Kenaikan harga memori ini akan menjadi tantangan bagi ekosistem teknologi di Indonesia, terutama bagi para gamer dan pengguna profesional yang membutuhkan performa tinggi," ujar analis pasar teknologi dari lembaga riset lokal.
Namun, ada secercah harapan. Jefferies memperkirakan penurunan harga sebesar 15 hingga 20 persen bisa terjadi pada 2028, seiring dengan beroperasinya pabrik-pabrik baru yang saat ini sedang dibangun. Kapasitas tambahan dari para pemain utama seperti Micron, Samsung, dan SK Hynix diharapkan dapat meredam lonjakan harga dalam jangka panjang. Meski demikian, konsumen harus bersabar karena penurunan tersebut masih tiga tahun lagi.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah produsen memori mampu menjaga stabilitas pasokan di tengah permintaan yang terus menggeliat? Atau justru kenaikan harga ini akan memicu pergeseran pola konsumsi, seperti beralih ke solusi penyimpanan alternatif atau memperpanjang siklus pemakaian perangkat lama? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: dompet konsumen akan semakin tertekan dalam waktu dekat.



