VAR di Piala Dunia: Antara Kontak Fisik dan Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Frekuensi intervensi VAR di Piala Dunia saat ini hampir sama dengan Premier League, namun konsistensi keputusan masih menjadi masalah utama.
- Sejumlah momen kontroversial, seperti penalti Ghana yang tidak diberikan dan gol Jerman yang dibiarkan, memicu kritik terhadap ambang batas intervensi yang tidak seragam.
- FIFA menekankan pendekatan 'intervensi minimal' untuk menjaga tempo permainan, tetapi kebijakan ini justru memperbesar ruang interpretasi subjektif wasit.

Piala Dunia edisi kali ini kembali memunculkan perdebatan sengit seputar penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Dalam sepekan terakhir, sejumlah keputusan kontroversial membuat penggemar dan analis mempertanyakan kapan sebenarnya teknologi ini akan campur tangan.
Data menunjukkan bahwa frekuensi intervensi VAR di turnamen ini hampir identik dengan Premier League musim lalu: 0,28 per pertandingan dibandingkan 0,29. Namun, yang membedakan adalah konsistensi. Dalam beberapa laga, VAR terkesan pilih-pilih: kadang terlalu aktif membatalkan keputusan, kadang justru 'tidur' saat insiden jelas terjadi.
Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, menegaskan bahwa sepak bola adalah olahraga kontak. Ia menginginkan permainan mengalir dengan tempo tinggi, sehingga tidak semua kontak dianggap pelanggaran. Konsekuensinya, ambang batas untuk 'kesalahan jelas dan nyata' menjadi lebih tinggi, dan VAR harus menyesuaikan diri. Namun, pendekatan ini justru menimbulkan kebingungan: kapan sebuah kontak dianggap cukup untuk intervensi?
Beberapa insiden menjadi sorotan. Ghana gagal mendapatkan penalti saat melawan Inggris setelah Ezri Konsa menjatuhkan Prince Kwabena Adu. Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, menyindir bahwa "VAR sedang minum kopi". Sehari kemudian, Brasil kebobolan gol yang dianulir karena Vinicius Jr dianggap melanggar Jack Hendry, padahal tayangan ulang menunjukkan Hendry yang lebih dulu menendang pemain Brasil itu. Mantan asisten wasit Piala Dunia, Darren Cann, menilai Skotlandia beruntung.
Insiden paling kontroversial terjadi pada laga Jerman vs Ekuador. Gol Leroy Sane dibiarkan meskipun Alexandar Pavlovic mengenai kepala Pedro Vite dengan sepatu tinggi. Joe Hart, mantan kiper Inggris, menyebut insiden itu jelas membahayakan lawan. Namun, wasit Tori Penso tidak memeriksanya. Ironisnya, beberapa menit kemudian VAR justru membatalkan penalti untuk Jerman setelah pelanggaran di tengah lapangan. Keputusan yang tampak saling bertolak belakang ini memicu tudingan bahwa VAR tidak konsisten.
Bagi Indonesia, perdebatan ini relevan mengingat VAR mulai diadopsi di Liga 1. Pengalaman Piala Dunia menunjukkan bahwa teknologi bukanlah solusi instan. Keberhasilan VAR sangat bergantung pada interpretasi wasit dan kebijakan kompetisi. Tanpa standar yang jelas, VAR justru bisa menjadi sumber kontroversi baru, bukan keadilan.
Collina dan timnya di Dallas masih memiliki pekerjaan rumah besar. Filosofi 'intervensi minimal untuk manfaat maksimal' hanya akan berhasil jika keputusan wasit di lapangan sudah tepat. Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Pertanyaannya, mampukah FIFA menyelaraskan visi dengan praktik di lapangan sebelum turnamen berakhir?



