Gagal Dapatkan Marco Palestra, Inter Milan Disarankan untuk Introspeksi: Manajemen Keuangan Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan kehilangan Marco Palestra yang memilih Chelsea dengan nilai transfer โฌ60 juta, setelah negosiasi yang alot.
- Keterbatasan dana dari pemilik Oaktree dan lambatnya respons menjadi penyebab utama kegagalan, bukan kesalahan direktur klub.
- Kasus ini menjadi pelajaran bagi klub-klub Italia tentang pentingnya kecepatan dan fleksibilitas finansial dalam bursa transfer.

Kegagalan Inter Milan dalam mengamankan tanda tangan Marco Palestra dari Atalanta menjadi tamparan telak bagi ambisi klub di bursa transfer musim panas ini. Pemain muda yang digadang-gadang sebagai pewaris posisi bek kanan itu akhirnya memilih bergabung dengan Chelsea dengan nilai transfer mencapai โฌ60 juta, meninggalkan Inter yang hanya mampu menawar โฌ45 juta plus bonus.
Laporan dari Italia menyebutkan bahwa kegagalan ini bukan semata-mata kesalahan direktur klub seperti Beppe Marotta atau Piero Ausilio. Justru, sorotan tajam tertuju pada pemilik klub, Oaktree Capital Management, yang dinilai terlalu lamban dalam merespons kebutuhan dana tambahan. Jurnalis Bucchioni dari TMW mengungkapkan bahwa Marotta harus menghabiskan waktu berharga untuk meyakinkan pihak manajemen investasi agar menaikkan batas pengeluaran, namun jawaban yang datang terlambat.
Inter sebenarnya telah menyiapkan dana sebesar โฌ50 juta untuk Palestra, namun jumlah itu ternyata tidak cukup. Dengan tambahan โฌ10 juta saja, kesepakatan bisa saja tercapai 20 hari sebelum Chelsea bergerak. Namun, kelambanan itu membuka celah bagi klub Premier League untuk mengajukan tawaran yang lebih menggiurkan, baik dari segi finansial maupun strategi, karena Atalanta lebih memilih menjual pemainnya ke luar negeri daripada ke rival domestik.
Kegagalan ini menjadi ironis mengingat Inter sebelumnya sangat membutuhkan pemain seperti Palestra untuk mengisi posisi bek kanan yang akan ditinggalkan Denzel Dumfries. Bahkan, legenda Inter, Beppe Bergomi, sempat menyebut bahwa Inter bisa saja mendapatkan 'Achraf Hakimi berikutnya'. Namun, ambisi itu kandas karena masalah klasik: keterbatasan anggaran dan birokrasi yang berbelit.
Bagi klub-klub Italia, kasus ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kecepatan dan fleksibilitas finansial di era modern. Di tengah dominasi klub-klub Premier League yang memiliki daya beli lebih tinggi, setiap keterlambatan bisa berakibat fatal. Inter harus segera berbenah, tidak hanya di level direktur, tetapi juga di level pemilik, jika ingin bersaing di kancah Eropa.
Ke depan, Inter harus mempertimbangkan ulang strategi transfer mereka. Apakah akan terus bergantung pada dana dari pemilik yang penuh batasan, atau mencari cara inovatif untuk meningkatkan daya saing? Sementara itu, para penggemar hanya bisa berharap agar pelajaran dari kegagalan ini tidak terulang di bursa transfer mendatang.



