Honda Cetak Rugi Bersih Pertama dalam 68 Tahun, CEO Minta Maaf dan Janjikan Transformasi
Baca dalam 60 detik
- Honda membukukan kerugian bersih 423,94 miliar yen pada tahun fiskal 2025, pertama kalinya sejak tercatat di bursa pada 1957, akibat restrukturisasi bisnis kendaraan listrik.
- CEO Toshihiro Mibe menyampaikan permintaan maaf kepada pemegang saham dan berkomitmen mengembalikan Honda ke jalur pertumbuhan dalam tiga tahun ke depan dengan fokus pada mobil yang stabil dan menguntungkan.
- Diskusi dengan Nissan dan Mitsubishi mengenai platform kendaraan generasi baru dan baterai hampir mencapai pengumuman, sementara Honda menghentikan pengembangan tiga model EV untuk Amerika Utara karena perlambatan permintaan.

Untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham pada 1957, Honda Motor Co. mencatat kerugian bersih tahunan โ dan sang CEO pun harus angkat bicara di hadapan para pemegang saham. Dalam rapat umum tahunan yang digelar di Tokyo, Presiden dan CEO Toshihiro Mibe menyampaikan permintaan maaf sekaligus janji untuk membalikkan keadaan dalam tiga tahun ke depan.
Honda mengumumkan kerugian bersih sebesar 423,94 miliar yen (sekitar $2,6 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2025. Angka ini menjadi yang terburuk dalam sejarah perseroan, dipicu oleh biaya besar yang timbul dari restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV). Meski demikian, manajemen optimistis dapat kembali mencetak laba pada tahun fiskal berjalan.
Keputusan strategis yang paling mencolok adalah penghentian pengembangan tiga model EV yang direncanakan diproduksi di Amerika Utara. Langkah ini diambil di tengah melambatnya permintaan kendaraan listrik di pasar AS, yang sempat menjadi andalan ekspansi Honda. Mibe mengakui bahwa keputusan tersebut menuai kritik tajam dari sebagian pemegang saham, namun ia menegaskan bahwa tanggung jawabnya adalah "segera mengembalikan Honda ke jalur pertumbuhan, terus menghadirkan produk mobilitas yang unik dan beragam ke dunia, serta memberikan hasil dengan urgensi."
Di luar masalah keuangan, Mibe mengungkapkan bahwa Honda masih melanjutkan pembicaraan dengan Nissan Motor Co. dan Mitsubishi Motors Corp. mengenai kerja sama di bidang platform kendaraan generasi baru yang berbasis perangkat lunak (software-defined vehicle) serta baterai. Meskipun belum ada keputusan konkret yang diumumkan, Mibe menyebut beberapa proyek "hampir siap diumumkan" dan hubungan dengan kedua mitra tetap berjalan baik.
Rapat pemegang saham juga menyetujui usulan manajemen untuk mengangkat 11 anggota dewan direksi, termasuk Mibe sendiri. Salah satu nama baru yang menonjol adalah Mahito Shikama, 48 tahun, yang dikenal karena pengalamannya mengembangkan kendaraan otonom Level 3 yang sudah dipasarkan secara komersial serta kendaraan SDV. Masuknya Shikama ke jajaran direksi diharapkan memperkuat orientasi teknologi Honda ke depan.
Namun, tidak semua pemegang saham puas. Seorang pekerja kantoran berusia 50-an yang hadir dalam rapat menyatakan kekecewaannya terhadap penanganan Mibe, dan menilai strategi masa depan perusahaan tampak hanya bersifat jangka pendek. Seorang pria berusia 40-an yang bekerja di perusahaan klien Honda bahkan menyarankan agar Mibe segera diganti agar bisnis bisa pulih lebih cepat.
Konteks Indonesia: Sebagai salah satu pasar terbesar Honda di Asia Tenggara, langkah restrukturisasi global ini patut dicermati. Honda Prospect Motor (HPM) belum memberikan pernyataan resmi mengenai dampak terhadap operasi di Indonesia. Namun, jika Honda memperlambat pengembangan EV global, strategi elektrifikasi di Indonesia โ yang masih bergantung pada model hybrid dan ICE โ mungkin tidak akan terpengaruh secara langsung dalam jangka pendek. Sebaliknya, kerja sama dengan Nissan dan Mitsubishi bisa membuka peluang bagi platform bersama yang lebih efisien, termasuk untuk pasar ASEAN.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah Honda mampu menepati janji Mibe untuk kembali ke jalur pertumbuhan dalam tiga tahun. Dengan tekanan dari pemegang saham, perlambatan EV, dan persaingan ketat dari pabrikan China, transformasi bisnis otomotif Honda akan menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan Mibe. Akankah strategi baru ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor dan pasar?



