Krisis Chip Global Kian Parah, Xbox Naikkan Harga Konsol hingga Rp2,4 Juta
Baca dalam 60 detik
- Microsoft mengumumkan kenaikan harga konsol Xbox hingga 150 dolar AS per 1 Agustus, dipicu lonjakan biaya memori dan penyimpanan lebih dari 2,5 kali lipat.
- Tekanan biaya komponen elektronik global, terutama dari sektor AI dan pusat data, mendorong produsen seperti Sony dan Apple juga menaikkan harga produk mereka.
- Kenaikan harga ini berpotensi memperlebar kesenjangan akses konsol game di Indonesia, di tengah daya beli yang belum pulih dan persaingan ketat dengan layanan cloud gaming.

Microsoft akan menaikkan harga jual konsol Xbox hingga 150 dolar AS (sekitar Rp2,4 juta) di seluruh dunia mulai 1 Agustus mendatang, menyusul krisis pasokan komponen global yang terus memburuk. Langkah ini menjadi sinyal terbaru bahwa tekanan biaya di sektor semikonduktor kian merembet ke produk konsumen, termasuk perangkat gaming yang selama ini menjadi salah satu andalan hiburan rumah tangga.
Dalam pernyataan resminya, Xbox menjelaskan bahwa biaya memori dan penyimpanan untuk konsol telah melonjak lebih dari 2,5 kali lipat, dan diperkirakan akan berlipat ganda lagi pada musim gugur 2027. Kenaikan ini tidak bisa lagi ditahan oleh perusahaan, meskipun sebelumnya mereka telah dua kali menaikkan harga sepanjang tahun lalu akibat tekanan tarif dan persaingan ketat. Model 512 GB akan naik 100 dolar AS, sementara varian 1 TB naik 150 dolar AS. Microsoft juga memutuskan untuk menghentikan produksi model 2 TB.
Krisis komponen ini tidak hanya menimpa Xbox. Sony telah menaikkan harga PlayStation 5 pada April lalu, menyusul kenaikan serupa pada Agustus tahun sebelumnya. Apple, raksasa elektronik konsumen, juga menaikkan harga iPad dan MacBook pada pekan yang sama, dengan alasan biaya chip memori yang melonjak akibat pembangunan pusat data untuk industri kecerdasan buatan (AI). Kelompok yang mewakili produsen otomotif, peritel, dan perusahaan elektronik sebelumnya telah memperingatkan bahwa permintaan chip memori yang melonjak bisa memicu kenaikan harga barang konsumen di AS dan mengganggu rantai pasok.
Bagi Indonesia, kenaikan harga konsol Xbox ini berpotensi memperkuat tren pergeseran ke layanan cloud gaming dan game mobile yang lebih terjangkau. Dengan harga konsol yang semakin mahal, konsumen Tanah Air mungkin akan semakin beralih ke platform berlangganan atau perangkat yang sudah dimiliki. Di sisi lain, para penggemar setia Xbox harus merogoh kocek lebih dalam jika ingin tetap menikmati gim eksklusif di perangkat keras terbaru. Persaingan dengan PlayStation dan Nintendo pun kian ketat, terutama di segmen harga menengah.
Langkah Microsoft ini juga terjadi di tengah rencana perusahaan untuk melakukan PHK besar-besaran bulan depan dan pemotongan signifikan pada anggaran pemasaran, seperti dilaporkan Bloomberg News. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan biaya tidak hanya berdampak pada harga jual, tetapi juga pada strategi operasional perusahaan secara keseluruhan. Pertanyaan besarnya, akankah konsumen tetap setia pada ekosistem Xbox, atau justru beralih ke alternatif yang lebih ramah kantong?



