NCC Jamin Insentif Presiden untuk Pabrik Smartphone Lokal, Target Konstruksi November
Baca dalam 60 detik
- Ketua Dewan Komisioner NCC berjanji mengupayakan insentif presiden bagi investor pabrik smartphone di Nigeria, dengan syarat konstruksi dimulai sebelum November.
- Langkah ini bertujuan menekan harga perangkat, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan lapangan kerja di sektor manufaktur digital.
- Jika berhasil, Nigeria berpotensi menjadi pusat perakitan regional, namun tantangan kualitas dan kepercayaan konsumen masih harus diatasi.

Ketua Dewan Komisioner Komisi Komunikasi Nigeria (NCC), Idris Olorunnimbe, berkomitmen mengajukan insentif langsung kepada presiden bagi investor yang bersedia membangun pabrik smartphone di Nigeria. Langkah ini diumumkan setelah pidatonya dalam Digital Africa Summit Roundtable di Shanghai pada 24 Juni lalu.
Olorunnimbe menekankan bahwa produksi lokal adalah solusi paling berkelanjutan untuk mengatasi mahalnya harga smartphone yang selama ini menghambat inklusi digital. Nigeria saat ini memiliki lebih dari 170 juta koneksi seluler dan 150 juta pengguna internet bergerak, namun daya beli masyarakat masih menjadi tembok terbesar. Dengan memproduksi di dalam negeri, biaya perangkat bisa ditekan karena sebagian besar komponen biaya akan dalam mata uang naira, bukan dolar, sehingga harga lebih stabil dan terjangkau.
Dalam pernyataannya, Olorunnimbe menjanjikan dukungan penuh pemerintah bagi pabrikan yang memulai konstruksi sebelum November. โJika ada pabrikan di ruangan ini yang berkomitmen membangun pabrik di Nigeria dan memulai konstruksi antara sekarang dan November, saya akan membawa komitmen itu sendiri ke presiden dan mencari keringanan serta dukungan yang Anda butuhkan,โ ujarnya. Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan harga, tetapi juga menciptakan ribuan lapangan kerja langsung dan tidak langsung, serta memperkuat rantai nilai lokal.
Nigeria selama ini sangat bergantung pada perangkat impor, yang membuat konsumen rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan. Olorunnimbe mengakui bahwa upaya sebelumnya dalam produksi smartphone lokal gagal karena kualitas buruk, layanan purna jual lemah, dan kepercayaan konsumen yang rendah. โTujuannya adalah membuat ponsel di Nigeria yang setara kualitasnya dengan ponsel impor dan mengalahkannya dari segi harga. Perangkat lokal yang meminta warga Nigeria puas dengan yang lebih rendah tidak layak dibuat,โ tegasnya.
Selain insentif produksi, NCC juga memperkuat regulasi perangkat melalui pembaruan Peraturan Persetujuan Tipe dan Sistem Manajemen Perangkat yang diusulkan. Langkah ini bertujuan membasmi perangkat palsu, kloning, dan curian, serta meningkatkan ketertelusuran di pasar ponsel. Olorunnimbe menekankan, โPonsel hanya benar-benar murah jika asli, aman, tersambung dengan baik, dan memiliki garansi yang bisa diandalkan pembeli.โ
Ia juga mendorong skema pembiayaan cicilan agar warga Nigeria tidak harus membayar penuh di muka. Model pembiayaan semacam itu, jika dikombinasikan dengan produksi lokal, dapat mempercepat inklusi digital secara signifikan. Olorunnimbe menyerukan pemerintah, regulator, dan pemangku kepentingan di seluruh Afrika untuk mempromosikan produksi lokal, menyelaraskan standar perangkat, dan memperluas akses ke smartphone terjangkau.
Bagi Indonesia, langkah Nigeria ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian industri perangkat telekomunikasi. Dengan basis pengguna digital yang besar, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa: harga smartphone yang masih tinggi dan ketergantungan pada impor. Kebijakan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sudah berjalan, namun efektivitasnya masih diperdebatkan. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengikuti jejak Nigeria dengan insentif langsung dari presiden untuk mendorong investasi pabrik smartphone lokal?



