Kenaikan Harga MacBook dan iPad: Dampak Lonjakan Biaya Memori AI
Baca dalam 60 detik
- Apple menaikkan harga MacBook dan iPad hingga US$150 akibat kenaikan biaya chip memori yang dipicu oleh permintaan AI.
- Lonjakan harga DRAM mencapai 98% di kuartal I-2026, mendorong Apple dan produsen lain menyesuaikan harga jual.
- Kenaikan harga ini diperkirakan akan diikuti oleh iPhone dan menekan pasar smartphone serta PC global.

Apple resmi menaikkan harga sejumlah lini MacBook dan iPad pada Kamis (25/6) setelah gelombang kenaikan biaya komponen memori yang dipicu oleh pesatnya pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) menghantam rantai pasok perusahaan teknologi paling bernilai di dunia itu.
Kenaikan harga ini menjadi sinyal bahwa bahkan Apple, yang dikenal memiliki daya tawar kuat terhadap pemasok, tidak mampu lagi menyerap lonjakan biaya yang oleh sejumlah analis dijuluki sebagai "RAMageddon". Harga MacBook Air dengan penyimpanan 512 GB naik dari US$1.099 menjadi US$1.299, sementara MacBook Pro 1 TB melonjak dari US$1.699 ke US$1.999. iPad Air 128 GB juga tak luput dari penyesuaian, dari US$599 menjadi US$749. Produk lain seperti HomePod dan Apple TV juga mengalami kenaikan serupa.
Langkah ini tidak menyentuh iPhone—lini produk yang menjadi andalan pendapatan Apple—namun analis memperingatkan bahwa kenaikan harga ponsel pintar itu hanya soal waktu. "iPhone tidak akan selamat, kenaikannya akan datang," ujar Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC. Ia menilai pengumuman harga baru sebelum peluncuran iPhone musim gugur adalah langkah strategis agar sorotan publik tertuju pada fitur anyar, bukan pada label harga yang lebih mahal.
Fenomena ini berakar pada pergeseran prioritas produsen memori seperti Micron yang kini lebih memprioritaskan pesanan dari perusahaan AI seperti Nvidia. Alhasil, pasokan untuk perangkat elektronik konsumen menyusut drastis, memicu kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Kami belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebesar ini dan secepat ini," demikian pernyataan Apple. Perusahaan mengaku telah berusaha melindungi konsumen selama mungkin, tetapi kini terpaksa menaikkan harga di sejumlah produk.
Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga ini berpotensi berdampak langsung pada harga jual MacBook dan iPad di pasar domestik. Mengingat produk Apple di Indonesia sudah dibebani pajak impor dan bea masuk, kenaikan harga global bisa membuat selisih harga semakin lebar dibandingkan negara tetangga. Para pengamat memperkirakan Apple akan menyesuaikan harga di Indonesia dalam beberapa pekan mendatang, seiring dengan perubahan harga di AS dan Singapura.
Kenaikan harga MacBook Neo—laptop termurah Apple yang diluncurkan Maret lalu—dari US$599 menjadi US$699 juga menghilangkan keunggulan kompetitifnya. Kini, Neo kehilangan selisih US$100 dibandingkan Dell XPS 13 yang dibanderol US$699, sekaligus menjadi lebih mahal dari sejumlah Chromebook Lenovo dan Asus. Langkah ini berpotensi menggerus pangsa pasar yang sempat direbut Apple di segmen laptop terjangkau.
Ke depan, tekanan biaya memori diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Dengan investasi besar-besaran di sektor AI dan kapasitas produksi yang belum sepenuhnya pulih, para produsen elektronik harus bersiap menghadapi periode harga tinggi yang berkepanjangan. Pertanyaannya, sejauh mana konsumen bersedia membayar lebih untuk perangkat yang sama, atau justru menunda pembelian hingga pasar memori kembali stabil?



