Tiga Calon Pengelola Kopdes Tewas saat Latihan Militer, Istana Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Tiga peserta program SPPI Kopdes Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer di tiga lokasi berbeda.
- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan latihan tidak dihentikan, namun evaluasi prosedur akan dilakukan.
- Pemerintah belum menemukan indikasi kelalaian, sementara dua korban dinyatakan meninggal akibat heat stroke dan henti jantung.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan latihan dasar militer bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tetap berlangsung meski tiga peserta program tersebut meninggal dunia dalam sepekan terakhir. Prasetyo menyebut evaluasi terhadap prosedur latihan akan dilakukan, namun belum ada temuan awal yang mengarah pada kelalaian.
"Kalau evaluasi jelas dong. Kan semua proses kita lakukan, kalau ada misalnya salah prosedur, oh itu kita perbaiki. Kalau salah prosedur itu ada yang mengarah kepada hal-hal kelalaian, ya itu juga bagian dari evaluasi," kata Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (26/6). Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto turut memonitor perkembangan peristiwa ini.
Tiga peserta yang meninggal adalah Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Novia Rahmadhani Sihotang. Mereka merupakan bagian dari Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tahun 2026 yang digagas Kementerian Pertahanan. Anisa meninggal akibat heat stroke saat mengikuti latihan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan pada 18 Juni. Yonanda mengalami henti jantung (cardiac arrest) di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja pada 17 Juni. Sementara Novia dilaporkan meninggal pada 23 Juni saat menjalani pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Kementerian Pertahanan melalui Karo Infohan Brigjen Rico Ricardo Sirait menyampaikan duka cita mendalam. Rico menegaskan bahwa sebelum mengikuti program, ketiga peserta telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan. "Perlu disampaikan bahwa sebelum mengikuti program, kedua peserta telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti rangkaian pendidikan," ujar Rico dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6).
Peristiwa ini memicu pertanyaan publik mengenai standar keselamatan dalam latihan dasar militer bagi peserta sipil. Program SPPI sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk mencetak pengelola koperasi desa dan kampung nelayan yang tangguh, dengan latihan militer sebagai bagian dari pembentukan karakter. Namun, kematian tiga peserta dalam waktu berdekatan menimbulkan kekhawatiran akan kesiapan prosedur medis dan mitigasi risiko di lapangan. Prasetyo mengakui bahwa laporan yang diterimanya menyebut kejadian terjadi di awal-awal latihan, namun ia belum melihat indikasi kelalaian.
Ke depan, pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan tujuan pembentukan karakter melalui latihan militer dengan jaminan keselamatan peserta. Evaluasi prosedur yang dijanjikan Istana akan menjadi kunci untuk memastikan program serupa tidak kembali menimbulkan korban jiwa. Apakah hasil evaluasi nantinya akan mengubah format latihan atau justru memperketat seleksi medis? Publik menanti langkah konkret pemerintah.



