Mantan Anggota Parlemen Thailand Tembak Mati Pejabat Lokal: Utang Piutang Berujung Maut
Baca dalam 60 detik
- Seorang mantan legislator Thailand menembak mati ketua organisasi administratif provinsi di Nonthaburi, dipicu sengketa pinjaman uang yang berlarut-larut.
- Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah penembakan massal di sekolah yang menewaskan sembilan orang, memicu kembali perdebatan tentang kontrol kepemilikan senjata di Thailand.
- Pemerintah Thailand berjanji memperketat regulasi senjata, termasuk menambah pemeriksaan kesehatan mental bagi pemohon izin, namun tantangan implementasi masih besar.

Seorang mantan anggota parlemen Thailand menembak mati seorang pejabat daerah di kantor pemerintah setempat di Nonthaburi, Senin (10/8), hanya beberapa hari setelah insiden penembakan massal di sekolah yang mengguncang negeri itu. Pelaku, Chalong Riewrang, diduga melepaskan tembakan ke arah Thongchai Yenprasert, ketua Organisasi Administrasi Provinsi Nonthaburi, akibat perselisihan soal uang pinjaman yang tak kunjung dilunasi.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata di Thailand, negara dengan tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi di Asia Tenggara. Menurut data Small Arms Survey 2017, diperkirakan ada 10,3 juta senjata api di tangan warga sipil, atau sekitar 15 senjata per 100 penduduk. Angka ini jauh melampaui negara-negara tetangga, menjadikan kontrol senjata sebagai isu yang krusial namun rumit untuk dituntaskan.
Kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa motif penembakan murni personal. Jenderal Polisi Wattana Yijin menyatakan, Chalong mengaku telah beberapa kali menagih utang yang mencapai beberapa juta baht, setara puluhan ribu dolar AS, namun Thongchai selalu mengelak. Dalam keterangannya saat ditahan, Chalong mengaku sempat mencoba berdialog, tetapi korban menolak berbicara. "Saya mengikuti dia ke mobil dan mengetuk kaca, bilang ingin bicara. Dia bilang tidak mau, jadi saya tarik pistol," ujarnya. Ia juga mengklaim bahwa pengemudi korban sempat mengarahkan senjata ke arahnya, sehingga ia melepaskan tembakan.
Namun, rekaman CCTV menunjukkan hanya Chalong yang menembak dari jarak dekat. Thongchai terkena tembakan di leher dan kehilangan banyak darah, lalu meninggal di rumah sakit. Pengemudinya juga terluka di lengan kanan, namun berhasil diselamatkan. Gubernur Nonthaburi, Chestha Mosikarat, menyebut keduanya adalah teman lama dan insiden ini diduga berawal dari kesalahpahaman. Meski begitu, polisi menegaskan bahwa senjata ditemukan di kendaraan korban, tetapi tidak digunakan.
Insiden ini terjadi di tengah duka mendalam setelah seorang remaja berusia 14 tahun mengamuk di rumahnya dan kemudian di Sekolah Debsirin Nonthaburi pada Jumat pekan lalu, menewaskan sembilan orang termasuk dirinya sendiri. Ini adalah penembakan massal terburuk di Thailand dalam hampir empat tahun terakhir. Pada Senin, para siswa kembali ke sekolah dengan pengamanan ekstra, termasuk detektor logam di sejumlah sekolah, termasuk Debsirin di Bangkok yang merupakan sekolah afiliasi. Kepala sekolah Withan Promsintusak mengatakan, langkah tersebut diambil untuk meyakinkan orang tua dan melindungi siswa. "Kami tidak pernah membayangkan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, bisa terjadi hal seperti ini," tuturnya.
Pasca-penembakan tersebut, Kementerian Pendidikan Thailand berjanji mengembangkan protokol keamanan baru dalam tiga bulan ke depan, termasuk skrining kesehatan mental, simulasi tanggap darurat, penanganan perundungan, serta deteksi senjata dan barang terlarang lainnya. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul juga menegaskan akan memperketat penegakan hukum bagi warga yang membawa senjata di tempat umum. "Tidak seorang pun berhak membawa senjata api, terutama di tempat umum," katanya, seraya menambahkan bahwa alasan membela diri tidak dapat dibenarkan.
Namun, para ahli menyoroti kelemahan sistem perizinan senjata di Thailand yang masih longgar. Saat ini, calon pemilik senjata tidak diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan mental, usia minimal untuk memiliki senjata hanya 20 tahun, dan tidak ada evaluasi berkala bagi pemegang izin. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa upaya pengendalian senjata akan menghadapi hambatan besar, baik dari segi regulasi maupun budaya kepemilikan senjata yang mengakar.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan kepemilikan senjata yang ketat. Meskipun tingkat kepemilikan senjata di Indonesia relatif rendah, kasus-kasus kekerasan bersenjata yang dipicu konflik personal tetap menjadi ancaman. Regulasi yang jelas, penegakan hukum yang konsisten, serta deteksi dini terhadap potensi pelaku kekerasan menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa. Pertanyaannya, apakah Thailand mampu belajar dari dua insiden mematikan dalam sepekan ini untuk benar-benar mereformasi sistem kepemilikan senjatanya, atau justru akan terjebak dalam siklus kekerasan yang berulang?



