Durasi Layar Bukan Tolok Ukur Utama: Pakar Soroti Pola Penggunaan Medsos Remaja
Baca dalam 60 detik
- Panel kesehatan Singapura merekomendasikan regulasi fitur media sosial, bukan larangan berdasarkan usia.
- Penggunaan bermasalah ditandai dengan dampak negatif pada fungsi kehidupan sehari-hari, bukan sekadar durasi.
- Literasi digital perlu diperkuat di rumah, sekolah, dan komunitas untuk melindungi generasi muda.

Singapura, 10 Agustus 2026 โ Menghabiskan satu jam sehari untuk berselancar di media sosial belum tentu berbahaya bagi remaja. Namun, jika waktu tersebut dihabiskan untuk terus-menerus mengecek jumlah 'like' dan menarik diri dari pergaulan nyata, maka hal itu menjadi gejala masalah yang membutuhkan intervensi lebih dalam. Para ahli yang tergabung dalam panel Kementerian Kesehatan Singapura menegaskan bahwa fokus penanganan sebaiknya diarahkan pada fitur-fitur platform yang berisiko, bukan pada pembatasan usia secara menyeluruh.
Laporan panel yang dirilis pada 30 Juli lalu merekomendasikan pendekatan yang lebih bernuansa dalam menilai dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak muda. Mereka membedakan antara penggunaan berlebihan dan penggunaan bermasalah. Penggunaan berlebihan didefinisikan sebagai aktivitas daring lebih dari tiga jam sehari, sementara penggunaan bermasalah lebih ditentukan oleh konsekuensi negatif yang muncul, seperti gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, atau isolasi sosial.
Andrew Yee, asisten profesor di Wee Kim Wee School of Communication and Information, Nanyang Technological University, menjelaskan bahwa seorang remaja yang menghabiskan empat jam sehari untuk mengobrol dengan teman dan terlibat dalam komunitas penggemar masih bisa dianggap sehat. Asalkan interaksi daring tersebut berdampak positif pada pertemanan di sekolah, pola makan dan tidur tetap terjaga, serta mampu meletakkan ponsel saat diperlukan. Sebaliknya, satu jam yang dihabiskan untuk membandingkan diri dengan orang lain atau mencari validasi sosial justru lebih mengkhawatirkan.
Panel juga menyoroti sejumlah fitur platform yang berpotensi memperburuk kondisi mental anak muda. Fitur 'infinite scroll' yang membuat pengguna sulit mengakhiri sesi, auto-play yang memperpanjang durasi menonton, serta umpan yang dikurasi algoritma dapat meningkatkan paparan konten negatif. Selain itu, penghitungan 'like' dan jumlah pengikut yang terlihat publik mendorong perbandingan sosial dan pencarian pengakuan yang tidak sehat. Shawn Soh, konselor senior dari Touch Community Services, menambahkan bahwa penggunaan bermasalah sering kali berkaitan dengan tekanan emosional, kesepian, atau kebutuhan kuat akan pengakuan sosial.
Untuk mengatasi masalah ini, panel merekomendasikan intervensi yang melibatkan konseling, penguatan mekanisme koping, dan regulasi yang lebih ketat terhadap fitur-fitur berbahaya. Selain itu, pendekatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dinilai penting. Lim Choon Guan, ketua panel, mengusulkan penyelenggaraan lokakarya literasi siber bagi orang tua di pusat-pusat komunitas. Sejak Juli, TikTok dan Touch Cyber Wellness telah memulai program serupa di Bukit Batok East untuk melatih orang tua dan remaja tentang kesiapan bermedia sosial dan keamanan daring.
Andrew Yee mengingatkan orang tua untuk tidak hanya berfokus pada durasi layar, tetapi juga memahami jenis aktivitas daring anak. "Menonton video memasak di YouTube, berselancar di TikTok, atau melihat aktivitas teman di Instagram adalah pengalaman yang sangat berbeda," ujarnya. Ia menyarankan orang tua untuk terlibat dalam aktivitas daring anak, misalnya menonton video memasak bersama, sambil menjelaskan perbedaan dampak dari setiap jenis konten.
Di sisi lain, Shawn Soh mendorong sekolah untuk menyediakan ruang diskusi dan pembelajaran berbasis skenario. Pertanyaan seperti bagaimana perasaan anak saat melihat konten tertentu, mengapa mereka tertarik, dan apakah interaksi daring memengaruhi suasana hati, harga diri, tidur, atau hubungan mereka dapat membantu refleksi diri. "Kunci utamanya adalah penguatan literasi digital secara konsisten di berbagai titik โ di rumah, sekolah, dan komunitas โ sehingga anak muda mendapatkan panduan yang jelas dan mendukung saat menjelajahi ruang daring," kata Soh.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya penetrasi internet dan penggunaan media sosial di kalangan remaja. Alih-alih menerapkan larangan total, pendekatan yang lebih adaptif seperti yang direkomendasikan panel Singapura dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dan orang tua di tanah air. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi strategi serupa dengan melibatkan platform digital dan komunitas secara aktif?



