Anggota Polisi di Palembang Kritis Dibegal Saat Nyambi Jadi Ojek Online
Baca dalam 60 detik
- Seorang anggota Bidokkes Polda Sumsel mengalami luka tusuk parah setelah diserang dua begal saat mengantar penumpang di Palembang.
- Peristiwa ini menyoroti risiko pekerja sampingan di kalangan aparat dan meningkatnya aksi kriminalitas di jalanan.
- Polrestabes Palembang telah menerima laporan dan tengah menyelidiki kasus, dengan harapan pelaku segera ditangkap.

Seorang anggota kepolisian dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes) Polda Sumatera Selatan berinisial JES harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah menjadi korban pembegalan di Palembang. Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu dini hari (9/8/2026) ketika JES tengah menjalankan pekerjaan sampingannya sebagai pengemudi ojek konvensional untuk menambah penghasilan.
Menurut keterangan istri korban, EH (44), suaminya memang sudah lama menggeluti profesi ojek pengkolan di sela-sela waktu dinasnya. JES biasa mangkal di kawasan Musi II, Palembang, untuk menunggu penumpang yang turun dari bus antar kota antar provinsi. Pada malam kejadian, ia mendapat dua penumpang, seorang pria dan wanita, yang meminta diantar ke Jalan Inspektur Marzuki, Kelurahan Siring Agung.
Sesampainya di lokasi tujuan, salah satu pelaku tiba-tiba memukul kepala JES dengan kayu dan menusuk perutnya. Meski dalam keadaan terluka, korban sempat berusaha melawan, namun kedua pelaku terus menyerang hingga ia terkapar. Kedua begal tersebut kemudian kabur dengan membawa sepeda motor korban, sebuah Honda Beat bernomor polisi BG 6384 ACK. Korban yang ditemukan warga dalam kondisi bersimbah darah segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Akibat serangan brutal tersebut, JES menderita empat luka tusuk di bagian perut, luka robek di kepala, memar di wajah, serta sayatan di kedua tangan. Kondisi kritisnya membuat keluarga dan rekan kerja khawatir, terlebih ia diketahui merupakan anggota aktif yang bertugas di Bidokkes Polda Sumsel. EH yang melapor ke SPKT Polrestabes Palembang pada Senin (10/8/2026) berharap pelaku segera ditangkap. "Suami saya dibegal saat antar penumpang, pelakunya dua orang, laki-laki dan perempuan. Saya minta mereka cepat ditangkap," ujarnya dengan nada putus asa.
Kasus ini menjadi sorotan karena korbannya adalah seorang aparat penegak hukum yang justru menjadi sasaran kejahatan jalanan. Pamapta Piket SPKT Polrestabes Palembang, Ipda Andi, membenarkan telah menerima laporan dengan nomor LP/B/2677/VIII/2026/SPKT/Polrestabes Palembang/Polda Sumsel. Ia memastikan kasus tersebut telah dilimpahkan ke Satreskrim untuk penyelidikan lebih lanjut. "Laporan sedang diproses penyidik, dan mudah-mudahan para pelaku cepat ditangkap," kata Andi.
Fenomena anggota polisi yang memiliki pekerjaan sampingan sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Gaji yang kerap dianggap belum mencukupi kebutuhan hidup mendorong banyak aparat untuk mencari penghasilan tambahan, seperti menjadi ojek, pedagang, atau pekerja serabutan lainnya. Namun, kasus ini menunjukkan risiko besar yang harus ditanggung mereka, terutama saat beroperasi di malam hari di daerah rawan kejahatan.
Kejadian ini juga menggarisbawahi meningkatnya aksi begal di kota-kota besar, yang kerap menyasar pengendara sepeda motor. Meski polisi gencar melakukan patroli, para pelaku sering kali memanfaatkan kelengahan korban dan medan yang sepi. Data kepolisian menunjukkan bahwa kasus begal di Sumatera Selatan masih fluktuatif, dengan pelaku biasanya beraksi secara berkelompok dan menggunakan senjata tajam.
Dari perspektif hukum, pelaku begal yang menyebabkan luka berat dapat dijerat Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun. Jika korban meninggal dunia, ancaman hukumannya bisa lebih berat lagi. Namun, proses penegakan hukum seringkali terkendala oleh minimnya saksi dan bukti di lapangan.
Kasus ini menjadi pengingat bagi aparat keamanan untuk lebih waspada, sekaligus menjadi evaluasi bagi institusi kepolisian dalam memberikan kesejahteraan yang layak bagi anggotanya. Pertanyaannya, apakah kejadian ini akan mendorong perbaikan sistem tunjangan atau justru hanya menjadi catatan kelam yang terlupakan? Yang jelas, nyawa seorang anggota polisi telah menjadi taruhan demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.



