Ekonom Nilai Destry Damayanti Sosok Tepat Pimpin BI di Tengah Tantangan Struktural
Baca dalam 60 detik
- Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas menilai pengalaman komprehensif Destry Damayanti menjadi modal utama menjaga kesinambungan kebijakan moneter.
- Tantangan gubernur BI ke depan tidak lagi sekadar inflasi, melainkan perubahan struktural ekonomi global seperti AI, digitalisasi, dan fragmentasi perdagangan.
- Penguatan kapasitas riset dan independensi bank sentral menjadi kunci agar stabilitas yang sudah terbangun dapat diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat.

Presiden Prabowo Subianto resmi mengirimkan Surat Presiden (Surpres) ke DPR RI pada Senin, mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Langkah ini langsung mendapat respons positif dari pelaku pasar, dengan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai sosok Destry adalah pilihan yang tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter.
Menurut Fakhrul, Destry bukan nama asing di dunia moneter. Ia memiliki rekam jejak yang panjang dan lintas sektor, mulai dari akademisi, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga puncak karier di bank sentral. Kombinasi pengalaman semacam ini, ujarnya, menjadi modal berharga ketika tantangan yang dihadapi otoritas moneter semakin kompleks dan multidimensi.
Fakhrul menegaskan bahwa pekerjaan rumah gubernur BI berikutnya tidak lagi sekadar menjaga inflasi atau menyesuaikan suku bunga. Bank sentral kini berada di tengah arus perubahan besar yang mengubah cara perekonomian bekerja: kecerdasan buatan, digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, pergeseran rantai pasok, transisi energi, hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik. "Perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia," kata Fakhrul di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan, bank sentral harus mampu membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola fluktuasi jangka pendek. Setelah fase stabilisasi berhasil menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas nilai tukar, tantangan berikutnya adalah memastikan stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat serta transmisi kebijakan yang semakin efektif. Independensi bank sentral tetap menjadi fondasi utama, namun harus diimbangi koordinasi yang erat dengan pemangku kebijakan lainnya.
Fakhrul juga berharap kepemimpinan baru BI menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas riset internal. Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap perubahan struktural yang sedang membentuk ekonomi dunia akan menjadi penentu efektivitas kebijakan di masa depan. Riset yang kuat, lanjutnya, akan membantu BI tidak hanya merespons gejolak jangka pendek, tetapi juga mengantisipasi arah ekonomi global.
Langkah Presiden mengajukan nama tunggal ini mengindikasikan adanya keinginan untuk memastikan transisi kepemimpinan di BI berjalan mulus tanpa gejolak politik. Bagi pelaku pasar, kepastian ini penting untuk menjaga kepercayaan terhadap arah kebijakan moneter. Destry sendiri bukan figur baru di mata investor, sehingga proses pergantian pucuk pimpinan BI diharapkan tidak mengganggu stabilitas pasar keuangan domestik.
Kendati demikian, tantangan yang menanti Destry tidaklah ringan. Ia harus mampu menavigasi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, di saat yang sama menjaga momentum pertumbuhan domestik. Pertanyaannya, apakah pengalaman panjangnya cukup untuk membawa BI melewati era perubahan struktural ini? Publik akan menanti langkah konkretnya setelah resmi dilantik.



