Saksi Pearl Harbor dan Korban Bom Nagasaki Bertemu: Damai Dimulai dari Kebaikan Satu Individu
Baca dalam 60 detik
- Dorinda Nicholson (90) dan Chiyoko Motomura (87) kembali bertemu di Nagasaki, memperingati 81 tahun bom atom.
- Pertemuan ini menegaskan bahwa dialog dan kebaikan antarpribadi adalah fondasi perdamaian global.
- Kisah mereka menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi dan toleransi di tengah konflik regional.

Di tengah hiruk-pikuk peringatan 81 tahun bom atom Nagasaki, dua perempuan lanjut usia yang mewakili dua sisi kelam Perang Dunia II kembali berpelukan. Dorinda Makanaonalani Nicholson, saksi mata serangan Pearl Harbor 1941, dan Chiyoko Motomura, penyintas bom atom 1945, bertemu di Taman Perdamaian Nagasaki pada Minggu (9/8). Pertemuan ini bukan sekadar reuni, melainkan simbol bahwa perdamaian dunia berakar dari kebaikan antarmanusia.
Nicholson, yang kini berusia 90 tahun, terbang dari Missouri untuk menghadiri upacara tersebut. Ia mengaku kagum dengan pidato Motomura yang berjudul "Pledge for Peace". "Dia pembicara yang luar biasa," ujarnya. Sementara Motomura, 87 tahun, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Saya sangat senang," katanya nyaris berteriak, hanya beberapa jam setelah menyampaikan pidato di hadapan ribuan hadirin.
Keduanya terakhir bertemu pada 7 Desember tahun lalu, saat Motomura mengunjungi Amerika Serikat dalam rangka peringatan serangan Pearl Harbor. Namun, bagi Nicholson, kunjungan kali ini terasa lebih istimewa. Sebelumnya, ia hanya sempat singgah empat jam di Nagasaki saat tur kapal pesiar. "Ini kunjungan yang sesungguhnya," tegasnya.
Perbedaan bahasa tak menghalangi keduanya untuk saling memahami. "Kami berbicara dalam bahasa cinta," kata Nicholson. Ia bahkan menari untuk Motomura, yang kemudian berujung pada pelukan hangat. "Sejak awal, saya melihat semangat indah dalam dirinya," tambahnya.
Bagi Motomura, pertemuan ini mengingatkannya pada pesan neneknya yang meninggal dunia: "Setiap orang pada dasarnya baik. Kita mungkin tersesat saat menjadi bagian dari kelompok, tetapi tidak ada manusia yang jahat." Sebelum bertemu Nicholson pertama kali pada Desember lalu, Motomura mengaku sempat merasa tegang dan bahkan memendam perasaan antagonis. Namun, ia segera menyadari pentingnya berdialog sambil saling menatap mata.
Nicholson, yang menyaksikan pesawat-pesawat Jepang menyerang pangkalan angkatan laut AS di Hawaii saat usianya baru enam tahun, masih ingat jelas momen itu. "Ayah dan saya melihat pesawat Jepang di atas rumah. Kami bisa melihat mata dan kacamata pilotnya," kenangnya. Mereka lalu bersembunyi di ladang tebu. Motomura, yang juga berusia enam tahun saat bom atom meledak sekitar 4,5 kilometer dari hiposenter, selamat berkat tubuh neneknya yang menutupinya. "Nenek terluka akibat pecahan kaca dan serpihan lainnya," tuturnya.
Nicholson menggambarkan hubungan mereka sebagai "dua ujung perang". "Kamu dan aku seperti dua penjepit buku perang, tempat perang dimulai dan berakhir," katanya. Jepang dan Amerika Serikat, yang dulu saling bermusuhan, kini menjadi sekutu dekat. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa rekonsiliasi bukanlah utopia.
Kisah Nicholson dan Motomura relevan bagi Indonesia yang kerap dihadapkan pada potensi konflik horizontal. Di tengah politik identitas yang memanas, pesan mereka tentang kebaikan individu dan dialog menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak dimulai dari negara, melainkan dari hubungan antartetangga. Seperti kata Motomura, "Rukun dengan tetangga dan mencintai orang-orang terdekat adalah langkah awal."
Ke depan, pertemuan semacam ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga gerakan nyata yang melibatkan generasi muda. Pertanyaannya, mampukah kita meneladani keberanian dua perempuan ini untuk saling memaafkan dan merangkul perbedaan? Ataukah kita akan terus membiarkan luka sejarah menjadi alat untuk memecah belah?



