Harga BBM Tinggi, Ongkos Bus Sekolah di Singapura Naik hingga 20%
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pendidikan Singapura mengizinkan operator bus sekolah menerapkan biaya tambahan bahan bakar maksimal 20% pada Juli-Agustus 2024.
- Kebijakan ini merespons lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah yang belum mereda.
- Pemerintah menjamin siswa penerima bantuan keuangan tidak akan terbebani kenaikan tarif melalui subsidi tambahan.

Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) memberikan lampu hijau bagi operator bus sekolah untuk menaikkan tarif sementara hingga 20 persen pada Juli dan Agustus mendatang. Langkah ini diambil sebagai respons atas masih tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) yang membebani biaya operasional transportasi sekolah.
Dalam pernyataan resmi Jumat (26/6), MOE menyebutkan bahwa operator bus sekolah tengah berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai penyesuaian tarif. Orang tua akan diberi tahu selama liburan sekolah Juni agar memiliki waktu menyusun ulang anggaran transportasi anak-anak mereka saat tahun ajaran baru dimulai.
Sebelumnya, pemerintah Singapura telah memberikan dukungan sementara bagi operator bus sekolah untuk periode April hingga Juni, menyusul lonjakan harga BBM akibat konflik di Timur Tengah. Pada Mei, dukungan itu dinaikkan dari setara 13 persen menjadi 20 persen dari pendapatan tarif transportasi. Kini, operator diizinkan mengenakan biaya tambahan bahan bakar yang bersifat terbatas waktu (time-bound) mulai Juli jika harga BBM masih tinggi.
MOE juga mengimbau sekolah untuk mempertimbangkan secara wajar permintaan operator kontrak yang ingin menaikkan tarif bus untuk kegiatan di luar sekolah. Kementerian berjanji akan terus memantau fluktuasi harga BBM dan meninjau ulang batas atas biaya tambahan jika diperlukan.
Bagi siswa yang tercatat dalam skema bantuan keuangan MOE, tidak akan ada kenaikan biaya yang harus dibayar langsung. Mereka akan menerima subsidi tambahan untuk menutup kenaikan tarif bus sekolah. Sementara itu, siswa yang membutuhkan dukungan lebih atau tidak memenuhi syarat bantuan keuangan dapat menghubungi sekolah masing-masing untuk mendapatkan bantuan berbasis sekolah.
Kebijakan ini muncul di tengah harga BBM global yang masih bertahan tinggi meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 17 Juni setelah lebih dari tiga bulan pertempuran. Dampak konflik terhadap pasokan energi belum sepenuhnya pulih, sehingga biaya operasional transportasi, termasuk bus sekolah, terus tertekan.
Bagi Indonesia, situasi serupa juga patut dicermati. Harga BBM bersubsidi di dalam negeri masih menjadi isu sensitif, dan kenaikan harga minyak dunia kerap memicu penyesuaian tarif angkutan umum, termasuk bus sekolah. Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mengalokasikan subsidi energi yang besar untuk menjaga daya beli masyarakat, namun tekanan fiskal tetap ada. Jika harga minyak terus tinggi, bukan tidak mungkin kebijakan serupa—seperti pembatasan subsidi atau izin kenaikan tarif—akan dipertimbangkan. Para orang tua di Indonesia pun perlu waspada terhadap potensi kenaikan biaya transportasi sekolah pada tahun ajaran baru.
Kebijakan Singapura ini menjadi contoh bagaimana pemerintah dapat menyeimbangkan kebutuhan operator dengan perlindungan bagi kelompok rentan. Pertanyaan selanjutnya adalah: akankah harga BBM kembali normal dalam waktu dekat, atau justru semakin memperlebar kesenjangan biaya hidup?



