PAS Bantah Bantu Kampanye Bersatu di Pemilu Johor: Koalisi Retak?
Baca dalam 60 detik
- Presiden PAS, Abdul Hadi Awang, menegaskan partainya hanya akan berkampanye untuk calon sendiri tanpa membantu Bersatu dalam pemilu negara bagian Johor.
- Meski masih menggunakan logo Perikatan Nasional, PAS mengakui hubungan dengan Bersatu telah berakhir dan kampanye berjalan terpisah.
- PAS menargetkan menjadi oposisi atau 'penyeimbang' di Johor dengan hanya bertarung di 11 kursi yang dianggap aman.

Presiden Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Abdul Hadi Awang, secara terbuka menyatakan bahwa partainya tidak akan turun tangan membantu kampanye Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) dalam pemilihan umum negara bagian Johor yang akan digelar pada 11 Juli mendatang. Pernyataan ini menegaskan keretakan hubungan di dalam koalisi Perikatan Nasional (PN) yang selama ini menjadi payung politik kedua partai.
Dalam pernyataan yang dikutip dari Sinar Harian, Hadi mengatakan bahwa PAS akan menjalankan kampanye secara independen meskipun kedua partai masih bertanding di bawah bendera PN. Ia mengakui bahwa penggunaan logo PN dalam pemilu kali ini lebih karena tekanan dari pihak tertentu, bukan karena soliditas koalisi. “Kami tidak tahu strategi Bersatu,” ujarnya usai memberikan ceramah agama di Masjid Rusila, Marang, Terengganu, Jumat (26/6).
Keputusan PAS untuk tidak berkampanye untuk Bersatu menandai babak baru dalam dinamika politik Malaysia. Sebelumnya, PAS telah mengumumkan penghentian kerja sama politik dengan Bersatu, meskipun keduanya masih tergabung dalam PN. Langkah ini dinilai sebagai upaya PAS untuk memperkuat identitasnya sendiri tanpa terbebani oleh citra partai lain, terutama di tengah persaingan ketat merebut hati pemilih Melayu-Muslim di Johor.
Hadi juga menegaskan bahwa prioritas utama PAS adalah memastikan Johor dipimpin oleh kalangan Muslim Melayu. “Saya tidak ingin Johor dikuasai oleh kelompok liberal atau non-Muslim. Biarkan Muslim yang memerintah Johor,” tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan strategi PAS yang ingin menggalang dukungan dari basis konservatif, sekaligus membedakan diri dari Bersatu yang dianggap lebih moderat.
Ketua PN, Ahmad Samsuri Mokhtar, sebelumnya mengumumkan bahwa PAS hanya akan mencalonkan diri di 11 kursi, berkurang dari 15 kursi pada pemilu 2022. Pengurangan ini disebut sebagai bagian dari strategi elektoral yang cermat. Hadi menambahkan bahwa pihaknya telah memilih kursi-kursi yang diyakini dapat dimenangkan, seperti Maharani. “Kami bertarung di 11 kursi... memilih kursi yang kami yakin menang, insya Allah,” ujarnya.
Bagi pengamat politik Malaysia, langkah PAS ini menunjukkan pergeseran taktik menjelang pemilu. Dengan tidak lagi bergantung pada Bersatu, PAS berusaha membangun citra sebagai partai Islam yang mandiri dan tegas. Namun, keputusan ini juga berisiko memecah suara pemilih Melayu yang sebelumnya solid di bawah PN. Di sisi lain, Bersatu harus berjuang sendiri tanpa dukungan mesin partai PAS yang kuat di akar rumput.
Pemilu Johor kali ini menjadi ujian bagi koalisi PN yang mulai goyah. Jika PAS dan Bersatu saling berkompetisi tanpa koordinasi, bukan tidak mungkin suara mereka terpecah dan menguntungkan lawan politik, seperti Barisan Nasional atau Pakatan Harapan. Pertanyaan besarnya: mampukah PAS meraih posisi sebagai ‘penyeimbang’ di Johor, atau justru strategi ini akan menjadi bumerang yang memperlemah posisi mereka sendiri?



