IHSG Anjlok 2,73% ke 5.835, Aksi Jual Massal Dipicu Inflasi AS dan Kenaikan Bunga Penjaminan LPS
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles 164 poin pada sesi pertama Jumat, dipimpin pelemahan sektor barang baku dan teknologi.
- Tekanan jual diperburuk oleh data inflasi PCE AS yang mencapai 4,1%, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
- Kenaikan tingkat bunga penjaminan LPS menjadi 3,75% dan rencana penerbitan Panda Bond menambah ketidakpastian di pasar domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan hampir tiga persen nilainya dalam perdagangan sesi pertama Jumat (26/6/2026), berbalik tajam dari posisi pembukaan yang sempat menguat. Aksi jual besar-besaran menyeret indeks ke level 5.835,11, menandai tekanan terberat dalam beberapa bulan terakhir di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang sesi, IHSG bergerak volatil dengan menyentuh level tertinggi 6.045 sebelum longsor ke titik terendah 5.830. Sebanyak 593 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 91 saham berhasil menguat dan 123 saham stagnan. Volume transaksi tercatat mencapai 11,70 miliar saham dengan nilai Rp6,39 triliun, menunjukkan kepanikan yang meluas di kalangan investor.
Seluruh sektor industri tanpa terkecuali mengalami koreksi. Sektor barang baku menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 5,73%, disusul utilitas yang ambles 4,48%, teknologi melemah 3,85%, dan konsumer non-primer turun 3,04%. Lima emiten yang paling membebani indeks adalah Mora Telematika Indonesia (MORA), Telkom Indonesia (TLKM), EMAS, BRMS, dan Bank Mandiri (BMRI).
Dari eksternal, tekanan berasal dari rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang mencapai 4,1% secara tahunan pada Mei 2026, level tertinggi sejak April 2023 dan jauh melampaui target The Fed sebesar 2%. Bersamaan dengan itu, revisi pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 menjadi 2,1% dan klaim pengangguran yang turun ke 215.000 mengonfirmasi ketahanan pasar tenaga kerja. Kombinasi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, mendorong penguatan dolar dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di dalam negeri, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga kredibilitas sistem penjaminan di tengah tekanan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara itu, pemerintah memastikan penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan masih dalam jalur untuk awal Juli 2026, sebagai upaya diversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas akses ke pasar keuangan China.
Bagi investor Indonesia, kombinasi sentimen global dan domestik ini menciptakan ketidakpastian ganda. Di satu sisi, data ekonomi AS yang kuat mendorong dolar AS menguat, menekan rupiah dan memicu aksi jual aset berisiko. Di sisi lain, kenaikan bunga penjaminan LPS berpotensi mengerek suku bunga deposito, mengalihkan minat dari pasar saham ke instrumen pendapatan tetap. Rencana penerbitan Panda Bond juga menambah pasokan surat utang yang bisa menyerap likuiditas.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi Indonesia dan keputusan suku bunga Bank Indonesia. Apakah tekanan jual akan berlanjut atau justru membuka peluang akumulasi? Jawabannya tergantung pada seberapa lama The Fed mempertahankan sikap hawkish dan bagaimana respons kebijakan moneter domestik dalam menjaga stabilitas nilai tukar.



