Brad Pitt Buka Suara: Sempat Pikirkan Bunuh Diri Saat Rumah Tangganya dengan Angelina Jolie Berantakan
Baca dalam 60 detik
- Aktor pemenang Oscar itu mengaku mengalami masa kelam pasca perceraian dari Angelina Jolie pada 2016, bahkan sempat membayangkan peluru di kepalanya sebagai pelarian dari sakit batin.
- Setelah tujuh tahun berpantang alkohol, Pitt kini kembali menikmati wine, namun mengaku harus ekstra hati-hati agar tidak terjerumus ke kebiasaan lama.
- Di tengah gempuran teknologi, Pitt justru melihat AI sebagai penyelamat industri film, terutama untuk produksi berbiaya menengah yang selama ini kesulitan mendapat pendanaan.

Brad Pitt, aktor papan atas Hollywood, untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa ia sempat dilanda pikiran untuk mengakhiri hidupnya saat menghadapi masalah keluarga pasca perceraian dengan Angelina Jolie pada 2016. Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Esquire UK, bintang film "Fight Club" itu mengaku berada dalam periode paling gelap dalam hidupnya, di mana rasa sakit yang mendalam membuatnya nyaris kehilangan harapan.
Pitt, yang kini berusia 62 tahun, menuturkan bahwa ia tidak pernah berpikir untuk bunuh diri kecuali pada satu masa singkat tersebut. "Saya tidak melihat jalan keluar," ujarnya. Lebih jauh, ia menggambarkan betapa beratnya tekanan batin yang dirasakan saat itu, bahkan sampai membayangkan sensasi dingin peluru di kepalanya sebagai bentuk pelarian. Namun, ia menegaskan bahwa naluri bertahan hidup yang kuat akhirnya menyelamatkannya.
Perceraian Pitt dan Jolie, yang dikenal sebagai salah satu perceraian paling heboh di industri hiburan, memang berlangsung alot dan penuh konflik. Pasangan yang memiliki enam anak ini terlibat pertarungan hukum panjang terkait hak asuh dan pembagian harta. Pitt sendiri mengakui bahwa masalah yang dihadapinya bukan hanya soal anak-anak, melainkan "urusan keluarga" yang lebih kompleks, tanpa mau membuka detail lebih lanjut.
Selain membahas masa lalunya, Pitt juga blak-blakan mengenai perjuangannya melawan kecanduan alkohol. Setelah tujuh tahun hidup tanpa setetes alkohol, ia kini mengaku kembali menikmati wine, meski dengan kontrol yang lebih ketat. "Saya bisa minum beberapa gelas, tapi tidak boleh berlebihan," katanya. Ia menyadari bahwa dirinya harus bersikap profesional dalam mengelola kebiasaan ini, mengingat kariernya yang masih moncer.
Di sisi lain, aktor yang juga membintangi film "Once Upon a Time in Hollywood" ini memberikan pandangan menarik tentang masa depan industri film, khususnya terkait kecerdasan buatan (AI). Di tengah kekhawatiran banyak pihak, Pitt justru melihat AI sebagai alat yang dapat membantu produksi film berbiaya menengah (US$40โ90 juta) untuk tetap eksis. Menurutnya, AI dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi dan membuka peluang bagi lebih banyak karya berkualitas.
Bagi penggemar Pitt di Indonesia, pengakuan jujurnya ini menjadi pengingat bahwa bahkan selebritas sekaliber Brad Pitt pun bisa mengalami krisis kesehatan mental. Di Indonesia, isu kesehatan mental masih sering dianggap tabu, padahal data menunjukkan prevalensi gangguan jiwa yang cukup tinggi. Kisah Pitt bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya dukungan psikologis dan menghilangkan stigma negatif terhadap mereka yang berjuang melawan depresi.
Pitt sendiri tampaknya telah menemukan titik terang dalam hidupnya. Ia terus berkarya di industri film dan tampak lebih bijak dalam menyikapi berbagai cobaan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah pengakuannya ini akan mengubah cara pandang publik terhadap kesehatan mental, terutama di industri hiburan yang kerap menuntut kesempurnaan? Atau justru akan menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, selalu ada perjuangan manusiawi yang tak terlihat?



