Pepe Bangkit dari Keterpurukan: Dua Gol ke Gawang Curacao Bawa Pantai Gading ke Fase Gugur Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Nicolas Pepe mencetak dua gol saat Pantai Gading mengalahkan Curacao, memastikan tiket ke babak knockout Piala Dunia untuk pertama kalinya.
- Pemain berusia 31 tahun itu sempat tersingkir dari skuad Piala Afrika dan nyaris hengkang dari tim nasional akibat kontroversi dan pelecehan rasial.
- Kebangkitan Pepe menjadi bukti ketangguhan mental dan kualitasnya sebagai striker utama, sekaligus memberi pelajaran tentang manajemen konflik di sepak bola modern.

Nicolas Pepe membungkam keraguan dengan dua golnya ke gawang Curacao pada laga pamungkas Grup H Piala Dunia 2026, Kamis (25/6) waktu setempat, mengantarkan Pantai Gading lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam empat partisipasi mereka di turnamen akbar ini.
Pencapaian itu terasa manis mengingat tujuh bulan lalu Pepe bahkan tidak masuk dalam skuad Piala Afrika. Pelatih Emerse Fae saat itu lebih memilih penyerang muda Yan Diomande. Namun cedera yang menimpa Diomande pada Maret lalu membuka pintu kembali bagi Pepe, dan ia langsung memanfaatkannya dengan mencetak gol penentu kemenangan saat uji coba melawan Skotlandia.
Performa apik bersama Villarreal di penghujung musim LaLiga turut memperkuat posisinya. Fae pun tak ragu membawa pemain berpaspor Prancis itu ke Amerika Utara. โSaya pikir episode dengan Nico sudah berlalu. Saya selalu berkomunikasi terbuka dengannya,โ ujar Fae seperti dikutip media setempat. โSekarang kami senang memiliki pemain yang kami kenal dan cintai. Dia membawa pengalaman besar bagi skuad.โ
Jalan Pepe menuju kebangkitan tidaklah mulus. Pada Desember lalu, ia memicu kontroversi setelah melontarkan pernyataan tentang buruknya rekor Maroko di Piala Afrika dalam sebuah video YouTube. Meski sudah meminta maaf, ia mengaku menjadi sasaran pelecehan rasial di media sosial dan menuduh federasi sepak bola Pantai Gading tidak memberikan dukungan. Sempat muncul spekulasi bahwa Pepe akan pensiun dari tim nasional.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Pepe menjadi pengingat bahwa pemain bintang pun bisa jatuh dan bangkit lagi. Di tengah hiruk-pikuk naturalisasi pemain keturunan untuk Timnas Indonesia, konsistensi performa dan manajemen ego menjadi faktor krusial. Pepe membuktikan bahwa kesempatan kedua bisa berbuah manis jika pemain mampu menjaga fokus dan memanfaatkan momen.
Karier Pepe memang penuh pasang surut. Dibeli Arsenal dari Lille dengan rekor transfer klub sebesar 72 juta poundsterling pada 2019, ia gagal memenuhi ekspektasi di bawah asuhan Mikel Arteta. Kontraknya diputus setahun sebelum berakhir, lalu ia pindah ke Turki sebelum akhirnya menemukan kembali performa terbaiknya di Villarreal. Di level tim nasional, ia menjadi bagian dari skuad juara Piala Afrika 2023, meski tidak dimainkan di semifinal dan final.
Kini, dengan dua gol krusial di Piala Dunia, Pepe tidak hanya menyelamatkan reputasinya tetapi juga memberi harapan baru bagi Pantai Gading. Pertanyaan selanjutnya: dapatkah ia mempertahankan performa ini saat menghadapi lawan-lawan berat di babak gugur?



