Aksi Jual Asing Mereda di Bursa RI, IHSG Bangkit ke 5.999
Baca dalam 60 detik
- Net sell asing di pasar reguler turun 74,5% menjadi Rp299 miliar pada Kamis (25/6), setelah sehari sebelumnya menembus Rp1,17 triliun.
- Tekanan jual mulai berkurang pasca evaluasi MSCI, namun saham perbankan seperti BMRI dan BBRI masih menjadi sasaran utama.
- IHSG berhasil ditutup menguat 1,96% ke 5.999,04, meski volume transaksi masih rendah dan kapitalisasi pasar stagnan di bawah Rp11.000 triliun.

Tekanan jual investor asing di Bursa Efek Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Pada perdagangan Kamis (25/6/2026), nilai net foreign sell di pasar reguler tercatat hanya Rp299 miliar, anjlok 74,5% dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai Rp1,171 triliun. Penurunan ini terjadi sehari setelah pengumuman hasil evaluasi MSCI yang memicu aksi pelepasan besar-besaran.
Meski arus dana asing masih keluar, penyusutan signifikan tersebut menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda. Analis menilai pelaku pasar asing mulai melakukan penyesuaian portofolio setelah periode volatilitas tinggi pasca rebalancing indeks MSCI. Namun, sektor perbankan masih menjadi sasaran utama aksi jual.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net sell terbesar senilai Rp224,2 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp93,2 miliar. Saham lainnya yang tertekan antara lain PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp77,3 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp40 miliar, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Rp39,9 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp32 miliar, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp31,5 miliar.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil bangkit. Setelah dibuka di zona merah, indeks melaju kencang dan ditutup menguat 1,96% ke level 5.999,04. Sebanyak 537 saham menghijau, 135 melemah, dan 141 stagnan. Namun, penguatan ini belum diiringi oleh lonjakan volume transaksi yang masih sepi, hanya Rp13,65 triliun dengan 22,58 miliar saham diperdagangkan. Kapitalisasi pasar pun masih terperosok di bawah Rp11.000 triliun, tepatnya Rp10.519 triliun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun indeks menguat, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Arus dana asing yang masih keluar dan volume transaksi yang rendah mengindikasikan sikap wait-and-see. Ke depan, pasar akan mencermati data ekonomi domestik dan kebijakan bank sentral global untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Pertanyaan besarnya: akankah IHSG mampu menembus level psikologis 6.000 dalam waktu dekat?



