Iraola Mulai Ukir Gaya Baru Liverpool: Chaos ala Bielsa demi Kejayaan Premier League
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Spanyol itu menanamkan filosofi menyerang khas Bielsa dengan rotasi posisi dinamis, meski baru empat laga pramusim.
- Rata-rata penguasaan bola Liverpool mencapai 60,6 persen, melonjak 12,9 persen dibanding musim lalu bersama Bournemouth.
- Tantangan terbesar Iraola adalah menyeimbangkan agresivitas tinggi dengan kedalaman skuad yang terbatas saat musim resmi bergulir.

Andoni Iraola resmi menukangi Liverpool dengan kontrak dua tahun, menggantikan Arne Slot yang baru saja mempersembahkan gelar Premier League. Namun, publik Anfield tak hanya menuntut hasil, melainkan juga gaya permainan yang menghibur—sesuatu yang diyakini akan dihadirkan pelatih asal Basque itu dengan sentuhan 'heavy metal' ala Jurgen Klopp.
Empat laga pramusim sudah dilakoni The Reds di bawah arahan Iraola. Hasilnya memang belum konsisten: dua kemenangan atas Sunderland dan Wrexham, namun dua kekalahan memalukan dari Leeds United dan Monaco setelah sempat unggul dua gol lebih dulu. Meski begitu, sinyal perubahan gaya sudah terlihat jelas, terutama dari rata-rata penguasaan bola yang mencapai 60,6 persen—melonjak signifikan dibanding rata-rata 47,7 persen milik Bournemouth musim lalu saat masih ditangani Iraola.
Peningkatan penguasaan bola ini justru menjadi tantangan baru. Jika di Bournemouth ia terbiasa membangun serangan balik cepat, kini ia harus menghadapi tim-tim yang cenderung bertahan rapat melawan Liverpool. Iraola pun mencoba memadukan penguasaan bola dengan intensitas tinggi khas dirinya. Dalam build-up, Liverpool kerap memulai dari bawah dengan melibatkan kiper dan empat bek, lalu memancing tekanan lawan sebelum melepaskan umpan-umpan vertikal. Ketika lawan menekan sejak awal, kiper seperti Alisson atau Giorgi Mamardashvili tak segan melepaskan umpan panjang untuk memanfaatkan bola kedua.
Filosofi menyerang Iraola tak lepas dari pengaruh Marcelo Bielsa, yang pernah melatihnya di Athletic Club pada 2011-2013. Dalam wawancara dengan Sky Sports pada 2023, Iraola mengakui banyak mengadopsi latihan dari Bielsa, terutama dalam hal pergerakan tanpa bola dan keberanian menerima kekacauan saat menyerang. Di Liverpool, pengaruh itu tampak dari rotasi posisi yang dinamis, terutama di sisi kiri. Bek kiri seperti Milos Kerkez kerap naik ke sepertiga akhir, sementara pemain sayap seperti Rio Ngumoha atau Cody Gakpo bisa bergerak ke dalam. Florian Wirtz, yang berperan sebagai nomor 10, sering melebar untuk membentuk segitiga lebar yang menyulitkan lawan menentukan siapa yang harus dikawal.
Namun, gaya menyerang yang agresif ini menyisakan lubang di lini belakang. Dalam beberapa laga, terlihat hanya dua bek tengah dan satu gelandang bertahan yang bertahan, membuat Liverpool rentan terhadap serangan balik cepat. Iraola sendiri sadar akan masalah ini. Usai kekalahan dari Monaco, ia mengakui timnya belum mampu mempertahankan level permainan, terutama di babak kedua. Ia menyebut kurangnya kedalaman skuad dan penurunan fisik sebagai penyebab utama. Meski demikian, ia tampaknya tak akan mengubah prinsip dasarnya: tetap mendorong enam atau tujuh pemain maju, dengan harapan pressing ketat bisa memutus serangan balik lawan sejak awal.
Di sisi pertahanan, Iraola menerapkan pola pressing 4-4-2 berbentuk berlian. Dominik Szoboszlai ditempatkan sebagai gelandang tengah kedua yang punya peran krusial. Ia bertugas menutup ruang dan memutus aliran bola lawan. Kapten Hongaria itu pun memuji pelatih barunya, mengatakan intensitas yang selama ini hilang kini kembali. Szoboszlai dinilai punya fisik mumpuni untuk menjalankan instruksi pressing yang menuntut pergerakan tanpa lelah.
"Dia sangat bagus. Intensitas yang kami butuhkan sekarang ada di sini, apa yang selama ini hilang sudah kembali," ujar Szoboszlai tentang Iraola.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perubahan gaya di Liverpool ini menarik untuk disimak, mengingat banyak pemain Asia Tenggara yang berkarier di Eropa dan menjadikan Premier League sebagai tolok ukur. Selain itu, pendekatan taktis yang menekankan pressing tinggi dan rotasi posisi bisa menjadi inspirasi bagi pelatih lokal dalam mengembangkan permainan menyerang yang modern.
Empat laga pramusim memang terlalu dini untuk menilai. Namun, jejak Iraola sudah mulai terlihat. Pertanyaan besarnya, akankah ia mampu menyeimbangkan chaos dan kecepatan yang menjadi ciri khasnya dengan skuad yang minim kedalaman dan ekspektasi tinggi untuk mendominasi pertandingan? Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi eksperimen berani ini.



