Bendungan Utama Laos Mulai Lepas Air, Warga di 9 Distrik Diminta Siaga Banjir
Baca dalam 60 detik
- Bendungan Xe Lanong 1 di Savannakhet akan melepas air mulai 11 Agustus karena debit masuk melonjak hingga 4.000 meter kubik per detik.
- Sejumlah sungai di Laos telah melampaui ambang bahaya, mendorong otoritas setempat menginstruksikan evakuasi aset warga di daerah rawan.
- Komisi Sungai Mekong memperkirakan level air mencapai status alarm di beberapa titik antara 11-14 Agustus, berpotensi berdampak pada negara hilir.

Pemerintah Laos mulai melepas air dari bendungan pembangkit listrik tenaga air utama, Xe Lanong 1 di Savannakhet, mulai Selasa (11/8), meny menyusul lonjakan debit air akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tangkapan. Langkah ini memicu kekhawatiran banjir di permukiman hilir yang padat penduduk.
Perusahaan pengelola bendungan, dalam pemberitahuan resmi 8 Agustus, memperkirakan curah hujan tinggi akan berlangsung hingga 12 Agustus. Debit air yang masuk ke waduk diproyeksikan melonjak dari sekitar 650 meter kubik per detik menjadi hingga 4.000 meter kubik per detik. Pelepasan air dalam volume besar tersebut berpotensi menaikkan muka air sungai di hilir secara signifikan, mengancam keselamatan warga yang bermukim di bantaran sungai.
Menanggapi situasi ini, Administrasi Provinsi Savannakhet telah memerintahkan aparat di sembilan distrik hilir untuk menyiagakan warga di daerah tepi sungai dan dataran rendah. Imbauan mencakup pemindahan ternak, peralatan pertanian, perahu, dan barang berharga lainnya ke tempat yang lebih tinggi. Otoritas setempat juga meminta warga untuk terus memantau informasi resmi dan bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi.
Kewaspadaan ini muncul di tengah kondisi sejumlah sungai di Laos yang sudah melampaui ambang bahaya. Data pemantauan pada 9 Agustus menunjukkan Sungai Xe Champhone di Savannakhet mencapai 8,08 meter, melewati level bahaya 8 meter. Sementara itu, Sungai Xe Bangfai di Provinsi Khammouane mencatat ketinggian 15,89 meter di stasiun Mahaxay, di atas ambang 15 meter. Di stasiun Jembatan Xe Bangfai, muka air bahkan mencapai 20,86 meter, melampaui level peringatan 20 meter.
Untuk menekan risiko banjir, Nam Theun 2 Power Company mengumumkan penghentian sementara pembangkit listrik dan penghentian pelepasan air ke Sungai Xe Bangfai sejak 7 Agustus. Langkah ini diambil setelah muka air sungai naik tajam akibat hujan beruntun, dan akan dipertahankan hingga kondisi membaik. Keputusan ini menunjukkan adanya trade-off antara produksi energi dan keselamatan warga, sebuah dilema yang kerap dihadapi negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada PLTA.
Departemen Meteorologi dan Hidrologi Laos telah mengeluarkan peringatan banjir dan tanah longsor untuk 9-10 Agustus. Distrik Phin, Thapangthong, dan Vilabouly di Savannakhet masuk kategori risiko tinggi, bersama sebagian wilayah Houaphanh, Luang Prabang, Khammouane, dan Salavan. Sementara itu, Phongsaly, Luang Namtha, Xaysomboun, Vientiane, dan Bolikhamxay berada pada risiko sedang terhadap banjir bandang dan longsor.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola bendungan yang berwawasan lingkungan. Dengan banyaknya proyek PLTA di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia sendiri, koordinasi antarnegara dan sistem peringatan dini menjadi krusial untuk meminimalkan korban jiwa. Komisi Sungai Mekong memperkirakan level air di beberapa titik akan mencapai status alarm antara 11-14 Agustus, termasuk di Vientiane pada 11 Agustus, serta Thakhek dan Pakse pada 12 Agustus. Masyarakat di sepanjang aliran sungai, termasuk di negara hilir seperti Kamboja dan Vietnam, perlu mewaspadai potensi kenaikan muka air dalam beberapa hari ke depan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah infrastruktur dan kesiapsiagaan lokal mampu menghadapi lonjakan air yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Dengan prediksi hujan yang masih akan berlanjut, koordinasi antara perusahaan PLTA, pemerintah, dan masyarakat menjadi ujian nyata ketahanan bencana di kawasan.



