Shannon Tan Kembali Moncer: Peringkat Ketiga di PIF London Championship, Bukti Konsistensi di Panggung Global
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Singapura berusia 22 tahun itu menembus posisi ketiga turnamen Ladies European Tour berhadiah US$2 juta dengan total skor 17-under.
- Penampilan impresif di London ini melanjutkan tren positifnya setelah finis keenam di AIG Women's Open, menandai peningkatan konsisten di setiap major.
- Hasil ini menegaskan potensi Asia Tenggara dalam golf putri dan bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan olahraga tersebut di Indonesia.

Pegolf Singapura, Shannon Tan, kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Pada ajang PIF London Championship yang berlangsung di Centurion Club, St Albans, Inggris, Minggu (9/8), ia berhasil finis di peringkat ketiga setelah memuntaskan putaran final dengan skor impresif 64, delapan di bawah par. Hasil ini sekaligus menjadikannya pemain dengan catatan putaran terbaik pada hari terakhir turnamen.
Dengan total akumulasi 17-under 275, Tan tertinggal lima pukulan dari juara bertahan asal Kanada, Anna Huang, yang sukses mempertahankan gelar dengan skor akhir 22-under. Sementara itu, posisi runner-up ditempati pegolf tuan rumah, Charley Hull, yang mengumpulkan total 19-under. Bagi Huang, kemenangan ini merupakan gelar keempatnya di Ladies European Tour (LET), sebuah pencapaian yang kian mengukuhkan dominasinya di usia muda.
Perjalanan Tan di turnamen ini tidak mudah. Memasuki putaran final, ia berada di posisi ketujuh bersama pegolf Spanyol, Luna Sobron, dengan defisit 11 pukulan dari pemimpin klasemen. Namun, determinasi tinggi langsung ditunjukkan sejak hole pertama dengan mencetak eagle di par lima. Lima birdie dan satu bogey menyusul dalam 11 hole berikutnya, sebelum eagle kedua di hole 13 membawanya merangsek ke posisi tiga besar dan hanya berjarak tiga pukulan dari pimpinan.
Penampilan Tan di London ini bukan kebetulan belaka. Sepekan sebelumnya, ia mencatatkan hasil terbaiknya di turnamen major dengan finis keenam di AIG Women's Open. Tren positif ini menunjukkan kematangan mental dan teknis yang terus berkembang. Jika melihat rentetan hasilnya di empat major musim iniโmulai dari tied-38 di Chevron Championship, tied-32 di KPMG Women's PGA Championship, tied-16 di Evian Championship, hingga tied-6 di AIG Women's Openโterlihat pola peningkatan yang signifikan dan konsisten.
Bagi kawasan Asia Tenggara, pencapaian Shannon Tan menjadi angin segar. Ia membuktikan bahwa pegolf dari negara dengan populasi kecil sekalipun mampu bersaing di level tertinggi golf putri dunia. Hal ini tentu menjadi inspirasi bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, yang tengah mengembangkan bakat-bakat muda di olahraga golf. Kehadiran figur seperti Tan dapat memacu federasi golf nasional untuk lebih serius dalam pembinaan atlet putri, baik dari sisi teknis maupun mental.
Melihat lintasan karier Tan yang menanjak, pertanyaannya kini bukan lagi apakah ia mampu bersaing, melainkan seberapa jauh ia bisa melangkah. Dengan usia yang baru menginjak 22 tahun dan jam terbang yang terus bertambah, bukan tidak mungkin ia akan segera merebut gelar pertamanya di LET atau bahkan tampil lebih perkasa di ajang major. Apakah ini awal dari era keemasan golf putri Asia Tenggara? Waktu yang akan menjawab, tetapi jejak yang ditinggalkan Shannon Tan di London pekan ini memberikan harapan besar.



