Drama Penyelamatan di Sekolah Nonthaburi: Siswi 14 Tahun Bertahan di Balik Barikade Meja
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswi kelas 8 di Thailand mengunci diri di ruang kelas bersama teman-temannya saat penyerangan berlangsung, sementara kakaknya bersembunyi di gedung lain.
- Insiden yang berlangsung 40 menit itu menewaskan sembilan orang, termasuk pelaku, dan melukai 23 lainnya; korban termuda adalah seorang gadis berusia 12 tahun.
- Peristiwa ini memicu kembali perdebatan tentang keamanan sekolah dan akses senjata api di Thailand, yang juga relevan bagi Indonesia dalam konteks kesiapsiagaan darurat.

Di tengah kepanikan yang melanda Debsirin Nonthaburi School, Thailand, seorang siswi berusia 14 tahun bernama Khim dan rekan-rekan sekelasnya bertindak cepat: mereka mendorong meja ke pintu, mematikan lampu, dan berjongkok dalam keheningan. Aksi itu menjadi penyelamat ketika seorang pria bersenjata bergerak di lorong sekolah pada Jumat pagi (7/8), mengubah hari belajar menjadi mimpi buruk yang menewaskan sembilan orang.
Serangan yang berlangsung sekitar 40 menit itu tidak hanya mengguncang Thailand, tetapi juga memantik kembali kekhawatiran tentang keamanan institusi pendidikan di Asia Tenggara. Polisi menyebut pelaku memulai aksinya di rumah kakek-neneknya sebelum menuju sekolah dan melepaskan tembakan sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Korban tewas bertambah pada Sabtu setelah seorang gadis berusia 12 tahun menghembuskan napas terakhir, menjadikan total korban jiwa sembilan orang, termasuk pelaku, dan 23 lainnya luka-luka.
Khim, yang meminta identitasnya disamarkan, menuturkan kepada Reuters bahwa awalnya para siswa mengira suara keras pertama berasal dari proyek konstruksi di dekat sekolah. Namun, ketika beberapa letusan susulan terdengar, seorang guru bergegas memerintahkan mereka kembali ke kelas, mengecek grup pesan, dan memberi tahu bahwa ada penyerang bersenjata di dalam gedung. Tanpa banyak bertanya, Khim dan teman-temannya membangun barikade dari meja dan kursi, mematikan lampu, dan menunggu instruksi selanjutnya dalam keheningan yang mencekam.
Saat bersembunyi di Gedung 5, Khim memantau perkembangan melalui pesan di tabletnya. Kakaknya, yang berada di Gedung 4, mengirim kabar bahwa ia bersembunyi di sebuah ruang kelas. Sang ibu, Kwan, seorang perawat berusia 52 tahun, juga mengirim peringatan bahaya. Khim membalas dengan pesan yang menusuk: โBu, jangan telepon aku, karena nada deringnya bisa berbunyi.โ Ketakutan itu nyata; grup chat siswa mulai berbagi foto-foto pelaku yang bergerak di lorong, dan sekolah dengan lebih dari 3.000 siswa serta hampir 150 guru itu berubah menjadi zona bahaya.
Kekhawatiran Khim memuncak ketika ia mendengar suara dentuman yang sangat keras dan mengetahui bahwa pelaku hanya berjarak beberapa ruangan darinya. Ia tidak tahu apakah pelaku menargetkan orang tertentu atau semua orang di sekolah. Sementara itu, Kwan, yang sedang bertugas di rumah sakit umum, menerima telepon panik dari putri sulungnya. Dengan berusaha tenang, Kwan meminta putrinya untuk melacak suara dan menghubungi layanan darurat melalui telepon kedua. Operator memberi tahu bahwa polisi, termasuk unit khusus, telah tiba di sekolah. Namun, sambungan telepon tiba-tiba terputus tanpa peringatan.
Kwan hanya bisa berdoa hingga putrinya menelepon kembali beberapa menit kemudian, mengabarkan bahwa ia selamat. Keluarga itu akhirnya berkumpul kembali beberapa jam kemudian di rumah mereka di pinggiran Bangkok. Khim mengaku sering bertengkar dengan kakaknya dalam keseharian, tetapi pertemuan setelah peristiwa itu mengubah segalanya. โAku tidak pernah menyayanginya sebanyak ini sebelumnya,โ ujarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tentang pentingnya prosedur keselamatan di sekolah. Di Indonesia, meskipun kasus penembakan di sekolah jarang terjadi, ancaman seperti kebakaran, gempa bumi, atau bahkan serangan teror tetap memerlukan kesiapsiagaan. Sekolah-sekolah di Tanah Air dapat belajar dari respons cepat para guru dan siswa di Thailand, yang meskipun panik, mampu bertindak dengan cukup tenang untuk menyelamatkan nyawa.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana Thailand akan memperketat regulasi kepemilikan senjata dan meningkatkan keamanan di lingkungan pendidikan. Akankah tragedi ini menjadi titik balik bagi kebijakan yang lebih ketat, atau justru tenggelam dalam rutinitas? Bagi keluarga korban, jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah cukup untuk menggantikan kehilangan yang mereka alami.



