Hamparan 20.000 Petunia Pink Sigh di Mother Farm Jepang Jadi Magnet Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Mother Farm di Chiba, Jepang, memamerkan sekitar 20.000 bunga petunia 'Pink Sigh' yang mekar sempurna di lahan seluas 5.000 meter persegi.
- Kultivar ini hasil kolaborasi ahli hortikultura dan Universitas Chiba sejak 2014, menjadi daya tarik musiman yang dinanti pengunjung.
- Fenomena bunga musiman seperti ini membuka peluang bagi pengembangan agrowisata serupa di Indonesia.

Sebanyak 20.000 tanaman petunia kultivar "Momoiro Toiki" atau yang akrab disebut "Pink Sigh" tengah memamerkan kemegahan di Mother Farm, sebuah peternakan wisata di Futtsu, Prefektur Chiba, Jepang. Hamparan bunga seluas sekitar 5.000 meter persegi ini berhasil memikat pengunjung dengan keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Fenomena mekarnya bunga-bunga tersebut menjadi sorotan utama di kawasan itu sejak awal Agustus, meskipun curah hujan yang berkepanjangan sempat menghambat pertumbuhannya. Pihak pengelola memperkirakan keindahan ini masih dapat dinikmati hingga akhir September mendatang, memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menyaksikan langsung pesona alam yang memukau.
Kultivar Pink Sigh bukanlah varietas biasa. Dikembangkan pada tahun 2014 oleh Akemi Sugii, seorang ahli hortikultura asal Minamiboso, bersama dengan Universitas Chiba, bunga ini menjadi simbol kolaborasi antara keahlian lokal dan riset akademis. Keberhasilannya menciptakan warna merah muda yang lembut dan tahan terhadap cuaca menjadikannya primadona di kalangan pecinta taman.
Pada 8 Agustus lalu, puluhan keluarga dan pasangan terlihat mengabadikan momen di bawah terik matahari musim panas. Chiharu Shibuya, seorang pegawai negeri berusia 31 tahun dari Yokohama, mengungkapkan kekagumannya, "Hamparan bunga ini bagaikan karpet merah muda yang indah di bawah langit biru musim panas." Ucapannya menggambarkan betapa pemandangan tersebut mampu menyentuh hati setiap pengunjung.
Fenomena agrowisata seperti ini sebenarnya bukan hal baru di Jepang, namun selalu berhasil menarik perhatian luas. Mother Farm sendiri telah lama dikenal sebagai destinasi yang menawarkan interaksi dengan hewan dan keindahan alam, dan kehadiran Pink Sigh menambah daya tarik tersendiri. Bagi Indonesia, keberhasilan ini bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan destinasi serupa yang mengedepankan keindahan flora lokal.
Di tengah tren pariwisata yang semakin mengutamakan pengalaman unik, kehadiran bunga-bunga musiman seperti Pink Sigh menjadi daya tarik yang tidak pernah gagal. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga untuk merasakan ketenangan dan keindahan alam yang jarang ditemui di perkotaan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis alam dan keberlanjutan.
Bagi Indonesia, potensi agrowisata serupa sangatlah besar. Dengan kekayaan flora tropis yang melimpah, pengembangan taman bunga tematik dapat menjadi alternatif destinasi yang menarik, sekaligus mendorong perekonomian lokal. Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk mewujudkan hal tersebut, sebagaimana yang dicontohkan oleh Mother Farm.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya tentang berapa lama bunga ini akan bertahan, melainkan bagaimana Indonesia dapat mengadopsi model serupa untuk menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat setempat.



