Ethereum Terjun 4% ke $1.556, Likuidasi Panjang Tembus $140 Juta
Baca dalam 60 detik
- Ethereum anjlok 4% dalam sehari, dipicu aksi jual besar-besaran setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan.
- Likuidasi posisi long Ethereum mencapai $140 juta dalam satu jam, menandakan kepanikan investor di tengah sentimen 'Extreme Fear'.
- Level $1.550 menjadi penentu arah selanjutnya; jika tembus, Ethereum berpotensi menguji $1.500, dipengaruhi pergerakan Bitcoin dan kebijakan Fed.

Ethereum (ETH) kehilangan 4% nilainya dalam sepekan terakhir, jatuh ke level $1.556 pada perdagangan Kamis, saat investor berbondong-bondong keluar dari aset kripto berisiko tinggi menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih panas dari dugaan. Penurunan ini menjadikan ETH sebagai salah satu underperformer di antara mata uang kripto utama, dengan kapitalisasi pasar keseluruhan menyusut 1,67% menjadi $2,05 triliun.
Data on-chain menunjukkan bahwa dalam satu jam setelah pengumuman indeks harga belanja konsumen (PCE) Mei yang melonjak 4,1% year-on-year, lebih dari $140 juta posisi long Ethereum dilikuidasi secara paksa. Volume perdagangan harian ETH justru melonjak 19% menjadi $15,93 miliar, mengonfirmasi bahwa aksi jual terjadi dengan keyakinan tinggi—bukan sekadar koreksi teknis biasa. “Ethereum tidak bergerak sendiri; ia terseret oleh air surut yang kuat,” demikian analisis pasar mencatat.
Sentimen pasar yang disebut “Extreme Fear” oleh indeks ketakutan dan keserakahan kripto membuat Ethereum kini berada di bawah level psikologis $1.600. Level support terdekat berada di zona $1.550; jika bertahan, ETH mungkin memasuki fase konsolidasi. Namun, analis memperingatkan bahwa jika Bitcoin gagal menahan support di dekat $59.000, Ethereum bisa terpeleset lebih jauh menuju $1.500. “Jalur dengan resistensi paling kecil masih ke bawah sampai ETH mampu merebut kembali $1.600 dengan keyakinan,” tulis seorang analis pasar.
Di sisi fundamental, Ethereum Foundation baru saja merilis laporan yang mengidentifikasi enam area tantangan kritis, dengan keamanan pengalaman pengguna (UX)—khususnya blind signing dan manajemen izin yang buruk—sebagai masalah paling mendesak. Laporan itu juga memperingatkan risiko sentralisasi akibat entitas staking besar yang menguasai sebagian besar validator. Meski bersifat netral hingga bearish dalam jangka pendek, laporan tersebut dinilai sebagai langkah proaktif untuk memperkuat ekosistem menuju target “triliunan dolar”.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Ethereum ini relevan mengingat tingginya minat perdagangan aset kripto di dalam negeri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus mengawasi volatilitas pasar, dan penurunan tajam seperti ini bisa memicu aksi jual panik di bursa lokal. Di sisi lain, koreksi harga juga kerap dimanfaatkan investor ritel untuk akumulasi, terutama jika level $1.500 bertahan sebagai support kuat.
Ke depan, arah Ethereum sangat bergantung pada sikap Federal Reserve terhadap suku bunga. Data PCE yang tinggi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan, yang biasanya menekan aset berisiko seperti kripto. Jika The Fed kembali hawkish, bukan tidak mungkin ETH menguji level terendah tahun ini. Pertanyaan besarnya: akankah Ethereum mampu bertahan di atas $1.500, atau justru menjadi awal koreksi yang lebih dalam?



