Hamilton-Ferrari, Ancaman Nyata di Kejuaraan F1 2025
Baca dalam 60 detik
- George Russell menilai kombinasi Lewis Hamilton dan Ferrari sebagai ancaman terbesar musim ini, usai Hamilton memenangi GP Barcelona.
- Hamilton mengakui peluang juara dunia masih terbuka, meski tertinggal 41 poin dari pemuncak klasemen Kimi Antonelli.
- Ferrari membawa upgrade mesin perdana di GP Austria, namun Hamilton menyebutnya belum cukup menutup kesenjangan dengan Mercedes.

Kombinasi Lewis Hamilton dan Ferrari dinilai sebagai ancaman serius dalam perebutan gelar juara dunia Formula 1 musim 2025. Pernyataan itu disampaikan oleh pembalap Mercedes, George Russell, yang menyebut performa Hamilton dalam empat hingga lima balapan terakhir membungkam kritik yang sempat dialamatkan padanya.
Hamilton, yang baru saja meraih kemenangan perdananya bersama Ferrari di Grand Prix Barcelona dua pekan lalu, mengakui bahwa peluang untuk bersaing di puncak klasemen masih mungkin. “Saya pikir itu bukan hal yang mustahil,” ujar pembalap berusia 40 tahun itu. Saat ini ia berada di posisi ketiga klasemen dengan selisih 41 poin dari pemimpin kejuaraan, Kimi Antonelli, yang juga membela Mercedes.
Russell, yang hanya tertinggal sembilan poin dari Hamilton, menilai kebangkitan mantan rekan setimnya itu sebagai bukti bahwa bakat tidak hilang begitu saja. “Orang-orang mulai meragukannya tahun lalu, bertanya apakah ia terlalu tua. Tapi lihat sekarang, ia tampil gemilang dalam beberapa balapan terakhir,” kata Russell. Ia menambahkan bahwa ketika semua elemen—pembalap, tim, setelan mobil, dan pemahaman ban—bekerja selaras, hasilnya bisa luar biasa.
Ferrari, yang disebut memiliki sasis terbaik di grid musim ini, masih menghadapi kelemahan pada sektor mesin. Untuk Grand Prix Austria akhir pekan ini, pabrikan asal Italia itu membawa peningkatan mesin pertama mereka. Namun Hamilton mengakui bahwa upgrade tersebut tidak akan sepenuhnya menutup jarak dengan mesin terdepan. “Ini sebuah langkah, tapi bukan keseluruhan celah,” ujarnya.
Di sisi lain, Hamilton juga mengungkapkan bahwa ia sempat mengalami cedera leher serius akibat kecelakaan dalam tes tahun lalu. “Saya menabrak dinding dengan keras, satu cakram tulang belakang leher saya terdorong dan menekan saraf. Selama sembilan pekan saya tidak bisa melakukan banyak hal,” tuturnya. Ia menjalani perawatan kiropraktik dan fisioterapi setiap hari, serta suntikan untuk meredakan nyeri. Cedera itu membuat posisi duduk di kokpit menjadi sangat tidak nyaman.
Sementara itu, Red Bull yang sejauh ini menjadi tim paling tidak kompetitif di antara empat besar, membawa upgrade sasis besar-besaran untuk balapan di Austria. Pembalap utama mereka, Max Verstappen, berharap peningkatan itu bisa memperbaiki performa. “Semoga ini membuat kami sedikit lebih baik, dan kita lihat saja nanti,” katanya.
Di barisan lain, Fernando Alonso kembali menegaskan komitmennya terhadap Aston Martin. Pembalap dua kali juara dunia yang akan genap berusia 45 tahun bulan depan itu menyatakan bahwa ia ingin memenangi gelar juara dunia bersama tim tersebut, baik sebagai pembalap maupun di luar lintasan. “Saya belum mengambil keputusan soal masa depan. Saya akan menunggu hingga jeda musim panas, sekitar Agustus, untuk memutuskan,” ujar Alonso. Ia menegaskan tidak akan berhenti balapan selama masih merasa kompetitif dan menikmati apa yang dilakukannya.
Dengan persaingan yang semakin ketat di puncak klasemen, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Hamilton dan Ferrari benar-benar mengejar ketertinggalan 41 poin dari Antonelli, atau justru Red Bull yang bangkit berkat upgrade sasis mereka?



