Latihan Beban Dua Jam Seminggu Turunkan Risiko Serangan Jantung pada Wanita hingga 44%
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 117.000 wanita menunjukkan latihan kekuatan dua jam per minggu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular 20% dan serangan jantung 44%.
- Kombinasi latihan beban dan aerobik memberikan perlindungan optimal, dengan penurunan risiko serangan jantung hingga 45% pada wanita yang aktif.
- Temuan ini mendorong rekomendasi latihan beban sebagai bagian integral pencegahan penyakit jantung pada wanita, yang selama ini kurang terwakili dalam riset.

Wanita yang menyisihkan dua jam setiap minggu untuk latihan kekuatan dapat menekan risiko serangan jantung hingga hampir setengahnya, demikian temuan studi terbaru yang dipublikasikan di JACC, jurnal utama American College of Cardiology. Riset yang melibatkan lebih dari 117.000 partisipan ini memberikan bukti kuat bahwa olahraga beban bukan sekadar pelengkap aerobik, melainkan komponen krusial dalam strategi pencegahan penyakit jantung pada perempuan.
Data yang dianalisis dari Nurses' Health Study (NHS) dan NHS II menunjukkan bahwa wanita yang melakukan latihan resistensi minimal 120 menit per minggu memiliki risiko 20% lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular mayor dan 44% lebih rendah mengalami infark miokard dibandingkan mereka yang tidak berlatih sama sekali. Setiap tambahan satu jam latihan per minggu semakin menurunkan risiko penyakit jantung sebesar 5% dan risiko serangan jantung sebesar 14%, mengindikasikan hubungan dosis-respons yang jelas.
Yang menarik, efek perlindungan semakin kuat ketika latihan beban dipadukan dengan aktivitas aerobik. Wanita yang memenuhi rekomendasi latihan kekuatan dua jam dan aerobik 150 menit per minggu, ditambah waktu menonton televisi kurang dari dua jam sehari, memiliki risiko paling rendah terhadap kejadian kardiovaskular mayor, serangan jantung, dan stroke. "Latihan resistensi dan aerobik bekerja sama memberikan perlindungan jantung ekstra, bukan saling menggantikan," ujar Edward Giovannucci, profesor nutrisi di Harvard T.H. Chan School of Public Health dan penulis koresponden studi.
Bagi wanita yang sudah rutin aerobik, menambahkan dua jam latihan beban setiap minggu hampir memangkas separuh risiko serangan jantung. Temuan ini sangat relevan mengingat penyakit kardiovaskular masih menjadi pembunuh nomor satu wanita secara global, namun riset tentang pencegahan spesifik gender masih terbatas. Socrates Kakoulides, kardiolog dari Baptist Health South Florida, menekankan bahwa wanita kerap tidak terwakili dalam uji klinis kardiovaskular, sehingga rekomendasi sering kali diekstrapolasi dari studi pada pria.
Di Indonesia, di mana penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi kedua pada perempuan setelah stroke, hasil studi ini membuka peluang intervensi yang murah dan mudah diakses. Latihan beban tidak harus dilakukan di pusat kebugaran; gerakan sederhana seperti squat, push-up, atau menggunakan resistance band sudah cukup efektif. "Jaringan otot yang terbentuk dari latihan kekuatan meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi lemak visceral, dan mendukung kesehatan kardiometabolik secara keseluruhan," jelas Clarinda Hougen, spesialis kedokteran olahraga dari Cedars-Sinai Orthopaedics.
Dengan bukti yang semakin kuat, para ahli mendorong agar latihan kekuatan dimasukkan secara eksplisit dalam pedoman pencegahan penyakit jantung pada wanita. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sistem kesehatan dan masyarakat dapat mendorong adopsi kebiasaan ini secara luas, terutama di kalangan wanita usia produktif yang kerap menghadapi kendala waktu dan akses.



