Duka di Thailand: Pelajar 12 Tahun Jadi Korban Kedelapan Penembakan Sekolah, Polisi Masih Mendalami Motif
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswi berusia 12 tahun menjadi korban kedelapan dalam insiden penembakan di sekolah dan rumah di Thailand, menambah daftar duka yang mendalam.
- Pelaku berusia 14 tahun diduga meniru konten kekerasan dari media sosial dan sempat membawa senjata BB ke sekolah, memicu pertanyaan tentang pengawasan orang tua dan sekolah.
- Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya angka kepemilikan senjata di Thailand dan mendesak evaluasi kebijakan kontrol senjata yang selama ini belum efektif.

Bangkok, 9 Agustus 2025 โ Duka mendalam menyelimuti sebuah sekolah di Nonthaburi, Thailand, ketika seorang siswi berusia 12 tahun yang menjadi korban kedelapan dalam insiden penembakan pada Jumat lalu, akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang komunitas sekolah, tetapi juga memicu pertanyaan serius tentang keamanan pelajar dan efektivitas kontrol senjata di negara tersebut.
Pelaku, seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun, dilaporkan melepaskan tembakan menggunakan senjata api milik kakeknya. Ia menewaskan kakek-neneknya yang telah membesarkannya di rumah mereka di utara Bangkok, sebelum melanjutkan aksinya ke sekolah dan menembak enam orang lainnya, termasuk guru dan staf. Setelah itu, ia mengakhiri hidupnya sendiri. Polisi masih mendalami motif di balik aksi brutal ini, namun dugaan sementara mengarah pada tekanan akademik dan pengaruh konten kekerasan di media sosial.
Di tengah duka, para pelayat berbondong-bondong datang ke vihara Wat Lat Pla Duk untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Naphat Chaima, siswi yang menjadi korban termuda. Upacara pemandian jenazah berlangsung khidmat, diiringi doa dan haru. Guru musik korban mengenangnya sebagai anak yang baik dan aktif dalam berbagai kegiatan. Seorang ibu yang anaknya sekelas dengan korban mengaku ingin sekolah memperketat keamanan, mengingat bagaimana pelaku bisa membawa senjata ke dalam lingkungan sekolah.
Konteks Indonesia: Pelajaran Berharga tentang Keamanan Sekolah
Peristiwa di Thailand ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga memiliki tantangan dalam pengawasan senjata api dan keamanan lingkungan pendidikan. Meskipun kepemilikan senjata api di Indonesia diatur ketat, kasus kekerasan di sekolah tetap menjadi perhatian. Menurut data KPAI, kasus perundungan dan kekerasan di sekolah masih kerap terjadi. Insiden ini menegaskan pentingnya deteksi dini terhadap tanda-tanda gangguan mental dan perilaku menyimpang pada remaja, serta perlunya penguatan peran guru dan orang tua dalam mengawasi aktivitas anak di dunia maya.
Polisi setempat, Atthapol Anusit, mengungkapkan bahwa dari pemeriksaan komputer pelaku, ditemukan riwayat menonton video kekerasan di media sosial. Pelaku juga pernah membawa senjata BB ke sekolah tahun lalu, namun berhasil disita oleh guru. Hal ini menunjukkan adanya tanda-tanda peringatan yang mungkin terlewatkan. Selain itu, pelaku diketahui tinggal bersama kakek-neneknya sejak usia dua tahun setelah orang tuanya bercerai. Tekanan akademik juga disebut sebagai faktor pemicu, mengingat neneknya yang merupakan mantan guru dikenal cukup ketat dalam hal belajar.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, telah berjanji untuk memperketat undang-undang kepemilikan senjata. Namun, janji serupa di masa lalu seringkali tidak membuahkan hasil. Tingginya angka kepemilikan senjata di Thailand, yang mencapai sekitar 10 juta pucuk, menjadi tantangan besar. Di Indonesia, meskipun kepemilikan senjata api sangat dibatasi, kasus penembakan jarang terjadi, namun kekerasan di sekolah tetap menjadi isu yang perlu ditangani serius.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana sekolah dan orang tua dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung kesehatan mental remaja. Apakah perlu ada program deteksi dini yang lebih komprehensif? Ataukah perlu ada regulasi yang lebih ketat terhadap konten kekerasan di media sosial? Peristiwa di Thailand ini menjadi pengingat bahwa keselamatan anak-anak adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa ditawar-tawar.



