Britney Spears Alami Kelopak Mata Turun Usai Suntik Botox: 'Hati-hati dengan Dokter'
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Toxic' itu membagikan video di Instagram yang memperlihatkan efek samping botox di kelopak matanya yang baru pulih setelah empat minggu.
- Ia mengkritik praktik kecantikan yang tidak bertanggung jawab dan mengingatkan penggemar untuk berhati-hati memilih dokter.
- Di tengah sorotan tersebut, Britney juga mengungkap luka lama soal hak asuh anak dan kritik terhadap orang tuanya.

Britney Spears, penyanyi berusia 44 tahun, mengungkapkan kelopak matanya sempat turun selama berminggu-minggu akibat suntik Botox yang tidak sesuai prosedur. Dalam sebuah video di Instagram, ia menunjukkan kondisi matanya yang baru pulih dan menyebut prosedur itu sebagai pengalaman memalukan yang hampir merusak penampilannya.
Empat pekan setelah perawatan, pelantun "...Baby One More Time" itu mengaku matanya perlahan kembali normal. Namun, ia memanfaatkan momen tersebut untuk memperingatkan penggemar agar lebih selektif dalam memilih praktisi kecantikan. "Mereka bisa benar-benar merusak matamu," ujarnya, sambil menekankan pentingnya menjaga tubuh sendiri karena itu adalah milik kita.
Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko prosedur estetika yang kerap dianggap sepele. Di industri kecantikan yang berkembang pesat, termasuk di Indonesia, kasus efek samping seperti ptosis (kelopak mata turun) bukan hal asing. Dokter kulit dan ahli bedah plastik selalu mengingatkan bahwa Botox harus ditangani oleh profesional bersertifikat, karena kesalahan injeksi dapat menyebabkan komplikasi sementara atau permanen.
Di Indonesia, tren perawatan Botox juga meningkat, terutama di kota-kota besar. Sayangnya, maraknya klinik ilegal atau praktik oleh tenaga non-medis meningkatkan risiko. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri kerap mengeluarkan peringatan tentang produk kosmetik ilegal yang beredar. Kasus Britney bisa menjadi pelajaran berharga bagi publik untuk tidak tergiur harga murah atau janji instan tanpa memeriksa kredibilitas klinik.
Lebih jauh, Britney juga membuka luka lama tentang hubungannya dengan anak-anak dan orang tuanya. Dalam unggahan di X, ia mengaku baru mengetahui bahwa kedua putranya, Sean Preston dan Jayden James, diam-diam diajak ke pantai oleh kakek-neneknya saat ia masih dalam konservatori. Ia merasa gagal sebagai ibu ketika salah satu anaknya menyatakan tidak percaya pada Tuhan, melainkan pada sains. Pernyataan ini memicu diskusi tentang tekanan psikologis yang dialami Britney selama bertahun-tahun.
Psikolog klinis menilai bahwa pengakuan Britney menunjukkan pentingnya dukungan mental bagi publik figur yang hidup di bawah sorotan. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental juga semakin menguat, tetapi stigma masih menghalangi banyak orang untuk mencari bantuan. Kisah Britney bisa menjadi pengingat bahwa bahkan selebritas sekaliber dirinya pun rentan terhadap tekanan emosional.
Ke depan, kasus ini membuka ruang diskusi tentang regulasi prosedur estetika. Apakah perlu ada sertifikasi yang lebih ketat bagi praktisi? Atau justru edukasi publik yang harus digencarkan? Yang jelas, pengalaman Britney menjadi pengingat bahwa kecantikan tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang ditimbulkan.



