Proyek Mewah Jared Kushner di Albania Picu Gelombang Protes Terbesar dalam Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Ribuan warga Albania turun ke jalan menentang resort mewah senilai €4 miliar yang didukung Jared Kushner di kawasan lindung Zvërnec.
- Gerakan 'Revolusi Flamingo' menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, yang dituduh melindungi korupsi dan mengabaikan hukum.
- Tekanan internasional meningkat: Parlemen Eropa meminta penghentian konstruksi, sementara jaksa khusus menjerat sejumlah pihak dalam kasus pencucian uang properti.

Gelombang demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan di Tirana, Albania, menjadi ujian terberat bagi pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama. Ribuan warga menolak proyek resort mewah senilai €4 miliar yang digagas Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, di kawasan pesisir Zvërnec yang masih alami dan lahan basah di sekitarnya.
Rama, yang berkuasa sejak 2013, memuji proyek tersebut sebagai motor penggerak ekonomi dan pariwisata. Namun, warga lokal dan pegiat lingkungan menolak keras karena sengketa kepemilikan lahan yang belum tuntas serta ancaman terhadap ekosistem rapuh. Kemarahan publik memuncak pada akhir Mei setelah video seorang demonstran diseret oleh petugas keamanan di lokasi proyek menjadi viral, memicu protes terbesar dalam beberapa dekade.
Gerakan ini kemudian dijuluki "Revolusi Flamingo", merujuk pada burung langka yang menghuni lahan basah Zvërnec. Para pengunjuk rasa tidak hanya menuntut pembatalan proyek, tetapi juga menginginkan Rama mundur dan reformasi struktural, termasuk perubahan sistem pemilu. Aksi solidaritas juga digelar diaspora Albania di berbagai kota Eropa.
Krisis ini tidak muncul tiba-tiba. Albania bergulat dengan korupsi sistemik yang menggerogoti kepercayaan publik. Sejumlah menteri telah dipenjara dalam beberapa tahun terakhir, namun upaya penegakan hukum kerap terhambat. Partai Sosialis yang berkuasa baru-baru ini menolak permintaan badan penuntut khusus bentukan Uni Eropa untuk mencabut kekebalan mantan Wakil Perdana Menteri Belinda Balluku yang telah didakwa korupsi—langkah yang dinilai memperlambat negosiasi aksesi Albania ke Uni Eropa yang baru dibuka pada 2024.
Di sisi lain, biaya hidup melonjak. Harga bahan bakar Albania termasuk tertinggi di Balkan, bahkan sebelum krisis energi akibat perang Ukraina dan Iran. Sektor properti tumbuh cepat dengan pengawasan transaksi yang lemah; laporan PBB 2021 menyebut pencucian uang menjadi faktor utama kenaikan harga di Tirana dan kawasan pesisir. Pariwisata memang menjadi mesin pertumbuhan, namun industri pangan domestik yang belum maju serta infrastruktur jalan dan rel yang buruk membuat warga biasa jarang menikmati hasilnya.
Kaum muda merasa tersisih dari proses politik dan peluang ekonomi. Lebih dari setengah juta warga Albania telah meninggalkan negara itu dalam satu dekade terakhir untuk mencari kehidupan lebih baik di Uni Eropa. Protes saat ini mencerminkan krisis legitimasi yang mendalam dan keinginan untuk masa depan tanpa elite lama.
Rama, yang masih menguasai mayoritas parlemen, menolak mundur dan menuding ada aktor asing di balik gerakan ini tanpa bukti. Namun tekanan terus bertambah. Parlemen Eropa pada 17 Juni mendesak penghentian konstruksi di kawasan lindung. Jaksa khusus juga telah mendakwa beberapa orang terkait pencucian uang di sektor konstruksi, yang selama ini dianggap sebagai pilar kekuasaan pemerintah. Tanda-tanda perpecahan mulai terlihat di internal Partai Sosialis: seorang anggota parlemen muda, Marjana Koçeku, baru saja keluar menjadi independen, dan sejumlah mantan menteri mengkritik gaya kepemimpinan Rama yang otoriter.
Meskipun gerakan protes ini beragam secara ideologis sehingga sulit menjelma menjadi partai politik tunggal, skala mobilisasi massa menunjukkan krisis kepercayaan yang nyata. Rama berharap gerakan ini akan mereda, tetapi protes telah memberdayakan warga Albania yang kini percaya bahwa perubahan politik mendalam mungkin terjadi. Pertanyaan besarnya: akankah gelombang ini mampu mendobrak status quo, atau justru tenggelam dalam kebuntuan politik?



