Suriah dan Rusia Sepakati Nasib Dua Pangkalan Militer: Pusat Pelatihan Bersama, Aset Sipil Diserahkan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah baru Suriah dan Moskow menuntaskan negosiasi panjang dengan mengubah status dua pangkalan militer Rusia menjadi pusat pelatihan bersama.
- Kesepakatan ini menjadi sinyal pragmatisme Damaskus di tengah tekanan untuk memulihkan ekonomi dan infrastruktur pasca perang saudara.
- Langkah berikutnya adalah serah terima fasilitas sipil dan evaluasi bandara Latakia, yang akan menentukan kecepatan normalisasi hubungan bilateral.

Pemerintah Suriah mengumumkan kesepakatan dengan Rusia mengenai masa depan dua pangkalan militernya, mengakhiri ketidakpastian yang menyelimuti kehadiran militer Moskow di negara itu sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad. Dalam nota kesepahaman yang ditandatangani, pangkalan udara Hmeimim dan pangkalan angkatan laut Tartus akan dialihfungsikan menjadi pusat pelatihan dan peningkatan kapasitas bersama, sebuah kompromi yang mencerminkan keseimbangan kepentingan kedua negara.
Kesepakatan ini muncul setelah satu setengah tahun negosiasi alot, dengan tenggat waktu maksimal tiga bulan untuk menyelesaikan proses transisi. Selama masa transisi, fasilitas sipil di kedua pangkalan akan diserahkan kepada pemerintah Damaskus. Langkah ini dinilai sebagai upaya Suriah untuk menarik investasi asing dan memulihkan citra internasionalnya, sementara Rusia berusaha mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan Timur Tengah yang semakin kompetitif.
Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, mengunjungi langsung lokasi pangkalan pada Minggu (9/8) untuk meninjau fasilitas yang tercakup dalam perjanjian bersejarah tersebut. Sementara itu, Otoritas Penerbangan Sipil Suriah mulai mengambil alih Bandara Internasional Latakia, yang selama ini operasionalnya terkait erat dengan kehadiran Rusia di Hmeimim. Kepala otoritas, Omar al-Hasri, menyatakan tim teknis telah memulai penilaian menyeluruh terhadap bandara untuk menyusun rencana rehabilitasi, sebuah langkah penting untuk mengintegrasikan kembali bandara tersebut ke dalam sistem penerbangan nasional.
Kesepakatan ini tidak lepas dari dinamika hubungan bilateral yang rumit. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa telah dua kali mengunjungi Moskow dan bertemu Vladimir Putin, yang memuji upaya Sharaa memulihkan integritas teritorial Suriah. Namun, Damaskus terus mendesak ekstradisi Assad yang berlindung di Rusia, sebuah isu yang belum menemukan titik terang. Di sisi lain, Rusia yang selama ini menjadi pendukung utama Assad dalam perang saudara 13 tahun, kini harus beradaptasi dengan realitas politik baru di Suriah.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama dalam konteks arus perdagangan dan keamanan jalur pelayaran di Laut Merah dan Terusan Suez. Selain itu, keputusan Suriah untuk mempertahankan hubungan dengan Rusia menunjukkan pragmatisme politik yang bisa menjadi pelajaran bagi negara-negara berkembang dalam menyeimbangkan hubungan dengan kekuatan besar.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana Rusia akan mematuhi tenggat waktu tiga bulan dan bagaimana implementasi pusat pelatihan bersama akan berjalan. Apakah ini akan menjadi model baru bagi kehadiran militer asing di Timur Tengah, atau hanya sekadar solusi sementara di tengah ketidakpastian politik yang masih membayangi Suriah? Yang jelas, kesepakatan ini menandai babak baru dalam hubungan Suriah-Rusia, dengan implikasi yang akan dirasakan tidak hanya di kawasan, tetapi juga oleh aktor-aktor global yang berkepentingan.



