Golkar Rombak Strategi Kaderisasi: Pendekatan Formal Ditinggalkan demi Gen Z Menuju 2029
Baca dalam 60 detik
- Partai Golkar mengalihkan model kaderisasi dari pendekatan konvensional ke pola interaksi digital yang lebih cair untuk menarik minat pemilih muda.
- Said Aldi Al Idrus menegaskan pentingnya organisasi berbasis komunitas dan konten politik edukatif sebagai jembatan menjangkau generasi Z dan milenial.
- Langkah ini merupakan bagian dari konsolidasi internal menjelang Pemilu 2029, sekaligus merespons perubahan perilaku politik anak muda yang semakin terhubung secara digital.

Partai Golkar memutuskan untuk meninggalkan pola kaderisasi yang selama ini terkesan kaku dan hierarkis. Ketua Bidang Kepemudaan dan Olahraga DPP Partai Golkar, Said Aldi Al Idrus, menegaskan bahwa pendekatan lama tidak lagi relevan untuk menarik minat generasi Z dan milenial yang tumbuh di tengah arus digitalisasi. Pernyataan ini disampaikan menyusul pertemuan dengan Barisan Muda KOSGORO 1957 (BMK 57) di Bandongan, Jawa Tengah, pada Sabtu (8/8), sekaligus menjadi sinyal perubahan haluan strategi partai berlambang pohon beringin itu.
Said, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), menggarisbawahi bahwa interaksi kader dengan anak muda tidak bisa lagi mengandalkan formalitas yang berlebihan. Menurutnya, pola komunikasi yang fleksibel, komunikatif, dan berbasis engagement menjadi kunci untuk membangun kedekatan emosional dengan pemilih potensial. "Pola interaksi kader dengan anak muda harus berubah. Tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang terlalu formal dan kaku," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (9/8).
Perubahan ini tidak muncul dari ruang hampa. Data demografis menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial akan mendominasi struktur pemilih pada Pemilu 2029. Kelompok ini dikenal kritis, melek teknologi, dan lebih mudah terhubung dengan isu-isu konkret seperti lapangan kerja, pendidikan, dan lingkungan. Mereka cenderung bergabung dengan organisasi berbasis hobi, profesi, atau komunitas sosial, bukan sekadar partai politik. Said menilai partai harus beradaptasi dengan realitas ini, termasuk dengan mengembangkan konten politik digital yang edukatif dan mudah dicerna.
Langkah Golkar ini menjadi bagian dari konsolidasi internal yang lebih luas. Said menekankan bahwa penguatan organisasi kepemudaan seperti BMK 57 adalah fondasi penting untuk membangun kader-kader masa depan. Dalam kesempatan yang sama, BMK 57 menggelar musyawarah besar yang menetapkan Rizki Maulana sebagai ketua baru, menggantikan Kemas Ilham Akbar. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan membawa energi baru dalam upaya menjaring kaum muda.
Di tengah derasnya arus informasi, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana memberikan pendidikan politik yang benar tanpa terjebak pada polarisasi. Said menilai bahwa ruang ekspresi politik bagi generasi muda harus diperluas, bukan dibatasi. "BMK 57 bersama OKP Karya Kekaryaan harus hadir untuk meningkatkan pemahaman kebangsaan serta pendidikan politik kepada generasi muda," tegasnya. Ini menjadi pengingat bahwa kaderisasi bukan hanya soal merekrut anggota, tetapi juga membentuk warga negara yang melek politik.
Bagi pengamat politik, langkah Golkar ini mencerminkan kesadaran bahwa partai politik tidak lagi bisa mengandalkan mesin politik tradisional. Digitalisasi telah mengubah cara anak muda memandang politik; mereka lebih percaya pada tokoh yang autentik dan dekat dengan isu keseharian. Pertanyaannya, apakah partai lain akan mengikuti jejak serupa? Atau justru Golkar akan memimpin perubahan ini? Yang jelas, menjelang 2029, pertarungan merebut hati pemilih muda akan semakin sengit, dan inovasi kaderisasi menjadi senjata utama.



