Harga Minyak Dunia Kembali ke Level Sebelum Perang Iran: Selat Hormuz Mulai Normal
Baca dalam 60 detik
- Arus minyak melalui Selat Hormuz mendekati volume normal sebelum konflik Iran, mendorong harga minyak global turun ke level pra-perang.
- AS dan sekutu Teluk menolak rencana Iran untuk memungut biaya pelayaran, sementara kesepakatan kerangka kerja masih menyisakan ketidakpastian soal inspeksi nuklir dan dana rekonstruksi.
- Bagi Indonesia, stabilitas Selat Hormuz berarti pasokan energi lebih terjamin dan tekanan inflasi dari harga minyak dapat mereda dalam jangka pendek.

Harga minyak mentah dunia anjlok ke titik terendah sejak sebelum pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari lalu, setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi bahwa arus pengiriman melalui Selat Hormuz hampir pulih sepenuhnya. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 20 juta barel minyak berhasil melewati jalur strategis tersebut, mendekati volume normal sebelum konflik.
Pemulihan ini terjadi di tengah upaya diplomatik Washington yang gencar meyakinkan negara-negara Teluk bahwa kesepakatan awal dengan Iran tidak akan mengorbankan keamanan regional. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam kunjungannya ke Bahrain, menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memungut biaya apa pun atas penggunaan Selat Hormuz. “Tidak ada satu negara pun di bumi yang berhak mengenakan biaya untuk penggunaan jalur air internasional,” ujar Rubio di hadapan para menteri luar negeri negara Teluk.
Meski arus minyak mulai lancar, Iran masih menunjukkan sikap keras. Garda Revolusi Iran, pada Kamis (25/6), memperingatkan kapal-kapal untuk hanya menggunakan jalur yang ditetapkan Tehran, menolak rute pelayaran sementara yang diumumkan Oman bekerja sama dengan Badan Pelayaran PBB. Sejak 23 Juni, sebanyak 57 kapal dengan sekitar 1.100 awak telah melintasi selat tersebut dalam rencana evakuasi yang dikoordinasikan PBB.
Di dalam negeri AS, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan politik yang meningkat. Dalam pertemuan tertutup dengan senator Partai Republik, Trump terlibat adu mulut dengan Senator Bill Cassidy yang mempertanyakan arah kesepakatan dengan Iran. “Tampaknya jalan yang ditempuh tidak sesuai dengan yang dijanjikan,” kata Cassidy. Senat kemudian memblokir resolusi yang bertujuan mengakhiri permusuhan dengan Iran melalui voting 50-47, sebuah langkah yang disebut Trump sebagai “peringatan bagi Iran”.
Kesepakatan kerangka yang ditandatangani Trump pekan lalu memicu skeptisisme luas, terutama di kawasan Teluk. Banyak negara yang sempat diserang Iran selama perang menilai perjanjian itu terlalu menguntungkan Tehran, termasuk pembentukan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar dan pelonggaran sanksi. Kekhawatiran juga muncul bahwa dana tersebut dapat digunakan Iran untuk membangun kembali kekuatan militernya, sementara isu program rudal balistik Iran tidak disinggung sama sekali.
Dalam kesepakatan itu, Iran diwajibkan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz selama 60 hari, namun Tehran mengisyaratkan akan memberlakukan biaya setelah masa tersebut berakhir. Seorang diplomat yang mengetahui negosiasi mengatakan Iran bisa mengusulkan biaya lingkungan, navigasi, dan keamanan dalam pembicaraan mendatang dengan negara-negara Teluk. AS dan sekutunya dengan tegas menolak skenario tersebut.
Konteks Indonesia: Pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz menjadi kabar baik bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi menekan biaya subsidi energi dan meredakan tekanan inflasi. Namun, ketidakpastian jangka panjang akibat ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda tetap menjadi risiko. Jika Iran benar-benar memberlakukan biaya pelayaran di masa depan, biaya logistik energi Indonesia bisa kembali melonjak.
Ke depan, negosiasi 60 hari yang dijadwalkan akan membahas isu-isu pelik seperti program nuklir Iran dan gencatan senjata di Lebanon menjadi penentu utama stabilitas kawasan. Pertanyaannya, mampukah Washington mempertahankan koalisi Teluk yang rapuh sambil menghadapi tekanan politik domestik yang semakin memanas menjelang pemilu November?



