Kontroversi AI Models: Merek Es Krim Tyra Banks Hapus Empat Iklan Buatan Mesin
Baca dalam 60 detik
- Merek es krim SMiZE and Dream milik Tyra Banks menghapus empat gambar promosi yang dibuat dengan AI setelah menuai kritik dari publik dan aktivis industri mode.
- Perwakilan Tyra Banks membela penggunaan AI sebagai alat yang tidak mengurangi kreativitas manusia, namun organisasi Model Alliance menilai teknologi ini memperkuat eksploitasi model dan standar kecantikan yang sempit.
- Di tengah kontroversi, Tyra Banks juga menggugat Netflix atas tuduhan pencemaran nama baik terkait dokumenter yang dinilainya tidak sesuai fakta.

Merek es krim SMiZE and Dream milik supermodel Tyra Banks menghapus setidaknya empat gambar promosi dari akun Instagram resminya setelah terungkap bahwa visual tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), bukan model sungguhan. Langkah ini memicu perdebatan sengit tentang batas etika penggunaan AI di industri kreatif, terutama di sektor mode dan fesyen yang selama ini bergantung pada kehadiran manusia.
Dalam pernyataan resmi kepada Entertainment Weekly, perwakilan Tyra Banks menegaskan bahwa sang model tetap berkomitmen untuk memberdayakan talenta manusia. โMs. Banks telah menghabiskan kariernya untuk mendukung bakat, menciptakan peluang, dan mempekerjakan model di seluruh dunia, termasuk untuk SMiZE and Dream di Australia. Komitmen itu tidak berubah,โ ujar sang juru bicara. Ia menambahkan bahwa penggunaan AI hanyalah alat yang mencerminkan adaptasi industri terhadap teknologi baru, dan bahwa โdalam hal kreativitas, kepribadian, dan kemampuan terhubung dengan orang, Ms. Banks tetap akan bertaruh pada manusia.โ
Namun, langkah ini menuai kritik tajam dari Model Alliance, sebuah organisasi nirlaba yang memperjuangkan hak-hak pekerja di industri mode. Dalam pernyataan di situsnya, Model Alliance menyebut bahwa AI generatif kerap digunakan untuk โmemanfaatkan ketidaksetaraan kekuasaan dan area abu-abu di industri mode, memungkinkan merek mengeksploitasi tenaga model secara lebih intensif.โ Mereka juga memperingatkan bahwa AI dapat โmemperkuat standar kecantikan yang berbahaya, terutama berdasarkan gender dan ras, yang berpotensi membalikkan kemajuan yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir.โ
Kontroversi ini terjadi di tengah meningkatnya penggunaan AI oleh merek-merek besar untuk menghasilkan konten pemasaran, sebuah praktik yang mulai mendapat sorotan dari regulator dan konsumen. Di Indonesia, fenomena serupa juga mulai terlihat, di mana beberapa merek lokal menggunakan AI untuk membuat gambar model atau influencer virtual. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan hak cipta, terutama ketika konsumen tidak diberi tahu bahwa gambar yang mereka lihat bukanlah manusia sungguhan. Belum ada regulasi spesifik di Indonesia yang mengatur penggunaan AI dalam iklan, namun Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menggodok aturan etika AI yang diharapkan dapat menjawab celah ini.
Sementara itu, Tyra Banks juga tengah menghadapi masalah hukum lain. Ia baru saja menggugat Netflix atas tayangan dokumenter Reality Check: Inside America's Next Top Model yang dituding mencemarkan nama baiknya. Dalam gugatan yang diajukan ke pengadilan, Tyra mengklaim bahwa Netflix menghilangkan bagian di mana ia bertanggung jawab atas kontroversi acara tersebut, sehingga menciptakan narasi yang palsu dan merugikan. Ia menuntut ganti rugi atas hilangnya peluang bisnis dan pendapatan di masa depan. Kasus ini menambah daftar panjang perseteruan antara selebritas dan platform streaming terkait penggambaran yang tidak akurat.
Ke depan, persoalan penggunaan AI dalam iklan dan dokumenter kemungkinan akan semakin mengemuka. Pertanyaan yang tersisa: akankah konsumen dan regulator menuntut label yang jelas pada konten buatan AI, atau justru industri akan semakin mengadopsi teknologi ini tanpa batas yang jelas?



