Menantang Steam Machine, Ritel Prancis LDLC Luncurkan 'Stim Machine' dengan Harga Sama, Performa Lebih Tinggi
Baca dalam 60 detik
- LDLC, perusahaan ritel teknologi asal Prancis, meluncurkan konsol 'Stim Machine' sebagai tandingan Steam Machine dengan harga setara namun spesifikasi lebih unggul.
- Stim Machine dibanderol €999,99 (kit) atau €1.039,99 (rakitan), sama dengan harga Steam Machine 512 GB, namun ditenagai GPU RDNA 4 dan RAM DDR5 yang lebih modern.
- Konsol ini tidak menyertakan sistem operasi pra-instal, sehingga pengguna harus menginstal SteamOS secara mandiri melalui panduan yang disediakan.

Pengecer teknologi asal Prancis, LDLC, memanfaatkan kekecewaan publik terhadap harga dan performa Steam Machine dengan meluncurkan produk alternatif yang diberi nama 'Stim Machine'. Konsol ini hadir dengan banderol yang identik dengan versi termahal Steam Machine, namun menjanjikan spesifikasi teknis yang jauh lebih mutakhir.
Steam Machine, yang diumumkan beberapa waktu lalu, menuai kritik karena dianggap terlalu mahal untuk performa yang ditawarkan, terutama saat menjalankan gim-gim berat. Menyadari celah ini, LDLC—yang dikenal sebagai spesialis perangkat keras komputer—merespons dengan pendekatan satir sekaligus kompetitif. Stim Machine dijual dalam dua varian: kit seharga €999,99 dan versi pra-rakitan €1.039,99, sama persis dengan harga jual Steam Machine berkapasitas 512 GB.
Perbedaan utama terletak pada dapur pacu. Stim Machine mengandalkan GPU RX 9060 XT berbasis arsitektur RDNA 4, prosesor Ryzen 5 8400F, dan RAM DDR5 16 GB 5600 MHz yang dapat diperluas hingga 128 GB. Sebagai perbandingan, Steam Machine generasi pertama menggunakan GPU kelas menengah dan RAM DDR4. LDLC juga menyertakan SSD 500 GB yang dapat diganti, serta dua slot SATA tambahan untuk ekspansi penyimpanan.
Meski unggul secara spesifikasi, Stim Machine memiliki satu kelemahan signifikan: konsol ini tidak dilengkapi sistem operasi bawaan. Pembeli harus menginstal SteamOS sendiri dengan mengikuti tutorial yang disediakan LDLC. Bagi pengguna awam, langkah tambahan ini bisa menjadi hambatan, mengingat Steam Machine menawarkan pengalaman 'colok dan main' langsung. Namun, bagi penggemar teknologi yang terbiasa merakit PC, hal ini justru menjadi nilai tambah karena memberikan fleksibilitas lebih.
Langkah LDLC ini menarik untuk dicermati, terutama di tengah tren konsol gaming yang semakin mendekati ekosistem PC. Di Indonesia, fenomena serupa mungkin belum terlihat secara langsung, namun persaingan harga dan spesifikasi seperti ini bisa menjadi referensi bagi distributor lokal yang ingin menawarkan alternatif konsol gaming dengan harga kompetitif. Apalagi, komunitas gamer di Indonesia cukup besar dan sensitif terhadap harga, sehingga kehadiran produk sejenis dengan performa lebih tinggi di harga yang sama bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Valve akan merespons tantangan ini dengan menurunkan harga Steam Machine atau justru meningkatkan spesifikasinya. Sementara itu, konsumen—khususnya para penggemar gaming PC—kini memiliki opsi baru yang patut dipertimbangkan, meski dengan catatan kesiapan teknis yang lebih tinggi.



