Honda dan Nissan Finalkan Standarisasi Komponen Kendaraan Listrik Generasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Honda dan Nissan memasuki tahap akhir negosiasi untuk menyatukan spesifikasi unit kontrol elektronik (ECU) pada kendaraan generasi mendatang.
- Langkah ini diambil setelah merger kedua perusahaan batal pada Februari 2025, dengan target pemakaian komponen bersama mulai 2029.
- Mitsubishi Motors berencana bergabung dalam skema ini, memperkuat daya saing Jepang melawan dominasi China dan AS di kendaraan berbasis perangkat lunak.

Honda Motor Co. dan Nissan Motor Co. dikabarkan telah memasuki babak akhir perundingan untuk menyatukan spesifikasi unit kontrol elektronik (ECU) pada kendaraan generasi berikutnya. Langkah ini diambil guna menekan biaya produksi melalui pengembangan bersama, menurut sumber yang mengetahui langsung proses negosiasi.
Upaya standarisasi ECU ini muncul setelah kedua raksasa otomotif Jepang itu membatalkan rencana merger pada Februari 2025 yang semestinya membentuk perusahaan induk bersama. Jika terealisasi, entitas gabungan tersebut akan menjadi grup otomotif terbesar ketiga di dunia berdasarkan volume penjualan. Kini, Honda dan Nissan memilih jalur kolaborasi teknis yang lebih terbatas namun tetap strategis.
Mitsubishi Motors Corp., yang sebagian sahamnya dimiliki Nissan, berencana ikut serta dalam kerangka kerja ini dan akan menerima pasokan komponen bersama dari hasil pengembangan tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa aliansi tiga perusahaan Jepang itu masih berjalan meski skema merger batal.
Kedua perusahaan tengah membahas spesifikasi teknis ECU dan diperkirakan dapat mencapai kesepakatan pada musim panas tahun ini. Target pemasangan komponen bersama pada kendaraan produksi massal dijadwalkan sekitar tahun 2029. Kendaraan yang dimaksud adalah model generasi baru yang disebut software-defined vehicles (SDV), yaitu mobil yang kemampuannya dapat ditingkatkan melalui pembaruan perangkat lunak secara over-the-air, termasuk sistem mengemudi otonom.
Persaingan global di segmen SDV semakin ketat. Produsen asal China seperti BYD dan Nio, serta pemain Amerika Serikat seperti Tesla, telah lebih dulu meluncurkan kendaraan dengan kemampuan pembaruan perangkat lunak jarak jauh. Honda dan Nissan menilai bahwa standarisasi komponen adalah kunci untuk mempercepat peluncuran kendaraan yang lebih kompetitif dari segi biaya tanpa mengorbankan teknologi.
Bagi Indonesia, langkah Honda dan Nissan ini patut dicermati. Pasar otomotif Tanah Air sangat bergantung pada pasokan komponen dari Jepang. Jika standarisasi ECU berhasil, biaya produksi kendaraan di dalam negeri berpotensi turun, yang pada akhirnya dapat membuat harga mobil listrik dan hybrid lebih terjangkau bagi konsumen Indonesia. Selain itu, pabrik perakitan lokal seperti milik Honda Prospect Motor dan Nissan Motor Indonesia mungkin akan mengadopsi komponen generasi baru ini pada masa mendatang.
Kendati demikian, tantangan teknis dan koordinasi antarperusahaan masih menjadi pekerjaan rumah. Perbedaan budaya korporat dan sistem pemasok yang sudah mapan bisa memperlambat realisasi target 2029. Pertanyaan besarnya: mampukah kolaborasi parsial ini mengejar ketertinggalan Jepang dari rival-rivalnya yang sudah melesat lebih dulu?



